#NulisRandom2015 : Day 16 (Cerbung: Lelaki Berbaju Koko Putih-Part 2)


Pria berbaju koko putih tadi mengambil alih pembicaraan. Beberapa cewek anggota remaja mesjid yang sedari tadi juga terlihat bosan kini menatap lurus ke depan dengan serius. Aku pun tak punya alasan lagi untuk menunduk terus, aku ingin melihat wajah nya langsung. Aku berani kan mengangkat kepala dan menatap wajahnya yang hanya berjarak satu setengah meter dariku.

“Dan untuk teman-teman KKN terima kasih karena telah hadir di desa kami. Untuk ke depannya insya Allah kami akan meluangkan banyak waktu kami untuk membantu program kerja dari teman-teman...”

Wah.. dilihat dari jarak dekat dia lebih ganteng. Pandangan matanya sangat teduh, lesup pipinya selalu terlihat saat ia mengucapkan sebait kata. Senyum manisnya tak pernah lepas. Serta Alis tebalnya yang  benar-benar memikat.

“Dia sempurna” kataku pada diri sendiri. Aku tak berkedip menatapnya. Hingga kemudian bola mata kami bertemu. Aku langsung menundukkan pandangan. Kuharap tatapan mataku tadi tak membuatnya merasa aneh.

Seusai shalat ashar berjamaah, aku kembali ke posko dengan langkah-langkah tertatih. Sepertinya aku tak punya tenaga lagi untuk berjalan. Matahari masih bersinar sangat terik walaupun jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Kupandangi anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan. Aku menghampiri dan menyapa mereka, memperkenalkan diri dan bergabung bermain bersama mereka sejenak. Aku selalu suka dengan anak-anak. Tawa mereka selalu membuatku merasa bahagia. Dan beberapa menit perkenalan ku dengan mereka. Mereka telah tertawa riang melihat ku bermain asal-asalan. Tanpa kusadari ada satu pasang mata yang memperhatikan ku dari kejauhan.

Pukul 18.05 beduk adzan maghrib ditabuh, adzan berkumandang memenuhi langit jingga desa ini. Aku dan beberapa teman sudah duduk manis menatap hidangan buka puasa yang dipersiapkan Ibu Kepala Desa sejak siang tadi. Ada Es buah, ada dadar gulung, ada jalangkote, ada kue lapis, Es Sirup Leci dan buah pisang. Aku dan teman-teman yang lain menatap takjub takjil buka puasa di atas meja, lalu tiba-tiba ibu Kepala Desa menghampiri kami sambil membawa tambahan gelas untuk kami.

“Maaf ya Nak, cuma bisa menyiapkan buka puasa seadanya. Kalian sabar ya selama berada disini, nanti kalau kalian sudah kembali ke rumah masing-masing baru bisa makan enak lagi” kata ibu setengah baya tersebut.

“Wah Bu, ini takjil buka puasanya sudah lebih dari cukup bu. Kami malah bingung mau makan yang mana dulu, karena pilihan nya terlalu banyak” kata Ahmad berbasa basi, padahal dia sudah menghabiskan segelas es buah dan tiga potong dadar padahal baru sepuluh menit yang lalu waktu berbuka.

“Iya Bu. Kita sangat berterima kasih karena sudah disiapkan menu buka puasa sebanyak ini. Es buah nya sangat nikmat bu” Kata Rafi, wakil ketua yang sangat santun itu.

“Syukurlah kalau begitu. Kalian habiskan ya makanan nya. Kalo ndak habis nanti jadi mubazzir loh” kata bu Desa sambil beranjak menuju dapur.

“Siap bu, laksanakan” kata Radit, teman satu fakultasku yang bertindak sebagai Ketua Bidang Perlengkapan. Badannya kurus kerempeng tetapi nafsu makannya jauh lebih besar dibandingkan Ahmad yang bertubuh gemuk.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang seperti kesetanan menikmati sajian buka puasa itu. Tiba-tiba Rara, gadis bertubuh mungil yang kukenal sejak OSPEK, namun berbeda Fakultas dengan ku menghampiriku setelah membantu Ibu Desa di dapur.

“Astrid, tadi siang kamu ikut rapat sama anak-anak Karang Taruna dan Remaja Mesjid sini kan?” tanya Rara setengah berbisik padaku.

“Iya, aku ikut. Emang kenapa?”

“Tadi Radit cerita, katanya Ketua Karang Taruna merangkap Ketua Remaja Mesjid sini ganteng banget ya?” tanya nya antusias.

“Hum... gak ganteng-ganteng amat seh. Tetapi lumayanlah” kataku sambil terus mengunyah lapis legit kuning yang sisa beberapa potong di atas meja.

“Gak ganteng-ganteng amat ya? Tetapi kok kata Radit, waktu kamu liat dia katanya mata kamu membelalak dan tak berkedip sama sekali?” katanya lagi setengah mengejek.

“What?” aku hampir tersedak mendengar kata-kata Rara barusan. Aku langsung menoleh ke Radit yang tengah khusyuk menghabiskan Es Buah nya setelah tiga kali tambah. Radit yang dari tadi sibuk menatap mangkuknya lalu mengangkat kepala dan menoleh padaku. Ia lalu tersenyum manis menampakkan wajah innocentnya lalu segera kabur ke dapur.

“Radith, awas ya kamu” kataku dalam hati.

Aku kemudian tersenyum manis ke arah Rara yang terkekeh melihat Radit yang kabur sambil membawa kabur sesisir pisang dari atas meja.

“Hum, Entahlah. Persepsi orang tentang sosok ganteng itu kan beda-beda. Kalau kamu, udah selesai masa datang bulannya. Kamu bisa shalat berjamaah di Mesjid lagi dan melihat langsung yang namanya Mas Irwan itu” kataku sambil melanjutkan makan kue lapis legit terakhir yang ada di piring.

“Oh..namanya Irwan toh. Wah nggak sabar neh, mau lihat langsung orangnya kayak gimana?” kata Rara sambil tersenyum genit lalu berlalu ke dalam kamar.

Huftt.. aku menghela nafas panjang. Sialan, ternyata waktu di Mesjid tadi, Radit memperhatikan aku. Ya ampun aku jadi merasa malu sekali.

Bersambung...



#NulisRandom2015: Day 15 (Review Movie: Mari Lari)


Kali ini mau review movie Indonesia berjudul "Mari Lari". Movie ini ditulis oleh seorang wanita bernama Ninit Yunita yang sempat menjadi Duta Olahraga Lari. Dari pengalaman-pengalamannya dalam beberapa event Lari Maraton, akhirya ia menulis cerita berupa movie ini. Film ini dibintangi oleh artis - artis papan Indonesia, seperti Olivia Lubis Jansen, Dimas Aditya, Donny Damara, Ira Wibowo dan Ibnu Jamil. 

Dalam movie ini diceritakan tentang seorang pemuda tanggung bernama Rio yang diperankan oleh Dimas Aditya. Ia merupakan anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan. Sejak kecil seringkali melakukan sesuatu semaunya sendiri. Ia selalu memilih berhenti ketika ia menemui hambatan kecil. Mulai dari mengikuti les karate lalu segera beralih ke les piano. Baru beberapa saat ia memutuskan untuk berhenti lagi. Kemudian ia memilih untuk mengambil kuliah di Australia, dan baru beberapa saat berada disana ia memohon untuk pulang dan mengambil kuliah di Indonesia saja. Ibunya yang diperankan oleh Ira Wibowo, tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan anaknya. Setelah kembali ke Indonesia, ia mengambil kuliah jurusan hukum dan setelah 7 tahun berlalu, kuliah nya belum selesai-selesai juga. Sang Ayah mulai tak suka dengan kelakuan Rio yang tak pernah menyelesaikan sesuatu. Hingga kemudian Rio memilih keluar dari rumah dan menjalani hidupnya sendiri. Dan sejak saat itu hubungan Rio dan Ayahnya mulai memburuk. Sejak keluar dari rumah, Rio tetap saja menjadi pemuda tanggung yang tak punya semangat dan cita-cita. Di kantor, ia menjadi salesman dengan tingkat penjualan terendah.

Titik balik kehidupan Rio mulai berubah saat Ibunda tercintanya meninggal dunia. Kata-Kata Sang Ibu menjadi pemacu semangatnya, "Selesaikanlah Nak, Apa yang sudah kamu mulai". Ia mulai bersemangat menjalani harinya terlebih lagi saat mengetahui bahwa Sang Ibu tercinta berencana untuk mengikuti Lari Marathon di Bromo. Ia pun mulai latihan berlari. Saat ia mulai berlari, ia bertemu dengan Annisa yang diperankan oleh Olivia Jansen Lubis. Semangatnya meningkat menjadi dua kali lipat karena Annisa tidak hanya menjadi teman berlari yang menyenangkan tetapi juga menjadi mentor berlari Rio. 



Movie ini memang tidak se booming Ayat-Ayat Cinta, atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, tetapi movie ini tetap punya kualitas loh. Di movie ini diceritakan juga tentang asal mula lari maraton, dan tips-tips untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti lari maraton.

So,... recommended buat kamu yang malas buat menggerakkan badan apalagi lari. Banyak loch manfaat yang bisa diambil dari ikut lari maraton seperti ini. Diantaranya, seperti Rio ini, dia akhirnya bisa mengalahkan dirinya sendiri yang selalu ingin berhenti di pertengahan jalan. Hum.. jadi ingin ikut lari marathon juga, setidaknya sekali dalam seumur hidup




 
GORESAN SANG PEMULA Blogger Template by Ipietoon Blogger Template