Sunday, August 13, 2017

Review Movie Korea "Daddy You Daughter Me"

Bagi seorang anak perempuan, Ayah adalah cinta pertama yang tak akan pernah tergantikan. Selain sebagai cinta pertama, Ayah juga bisa menjadi sosok superhero. Ia adalah pahlawan yang berjuang tanpa kenal lelah membanting tulang demi untuk kebahagiaan keluarganya. Tetapi setelah beranjak dewasa, cinta pada sosok Ayah kemudian terlupakan. Sang anak mulai disibukkan dengan berbagai macam aktivitas yang membuat kita lupa untuk sekedar bertanya bagaimana kabar ayah hari ini? Sama seperti movie korea satu ini, judul nya "Daddy You Daughter Me". Tema ceritanya agak mirip dengan drama korea secret garden yang dibintangi oleh Hyun Bin dan Ha Ji Won. Yaitu tentang dua orang yang saling bertukar tubuh. Bedanya kalo di Secret Garden, Kim Joo Won (Hyun Bin) bertukar jiwa dengan Gil Ra Im (Ha Ji Won) dan menjadi sepasang kekasih. 

Nah kalo di Daddy you Daughter Me  ini, Do Yeon yang diperankan oleh Jung So Min saling bertukar tubuh dengan ayahnya yang diperankan oleh Yoon Je Moon. Awal cerita dikisahkan tentang Do Yeon yang sedang duduk di bangku SMA mulai menjaga jarak dengan sang Ayah. Padahal waktu kecil dulu ia sangat dekat dengan ayahnya. Do Yeon merasa kesal karena terus di suruh belajar oleh Sang ayah. Hingga suatu hari Do Yeon bertengkar hebat dengan ayahnya. Do Yeon mengatakan bahwa ia merasa sangat kesal karena terus diomeli untuk belajar. Ia lalu mengatakan bahwa menjalani kehidupan sebagai pelajar itu sangat berat. Coba sehari saja ayah yang menjadi diriku. Pasti ayah tak akan mampu bertahan. Ayahnya lalu berkata, tugas mu hanya belajar agar dapat masuk perguruan tinggi yang bagus. Dan itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Coba kamu jadi ayah yang harus membanting tulang untuk mencari uang. Pasti kamu juga tak akan mampu bertahan. Tanpa mereka sadari bahwa malam itu, mereka sedang bertengkar di bawah pohon ginkgo yang berusia hampir ribuan tahun. Dan menurut legenda yang ada, jika mengucapkan keinginan di bawah pohon tersebut. Maka keinginan tersebut akan terkabul. Dan jeng jeng... keinginan mereka berdua benar-benar terkabul. 

Malam hari saat Do Yeon berkendara dengan ayahnya pulang ke rumah. Tiba-tiba mereka mengalami kecelakaan. Dan keesokan harinya terbangun di rumah sakit dalam keadaan telah bertukar tubuh. Do Yeon menempati tubuh ayahnya, sedangkan ayahnya menempati tubuh Do Yeon. Mengetahui hal itu, Do Yeon dan ayahnya menjadi sangat panik. Karena ternyata keinginan mereka terkabul. Do Yeon lalu menelpon kakek yang menceritakan legenda tentang Pohon Ginkgo tersebut. Sang kakek mengatakan bahwa mereka harus bertahan selama tujuh hari tanpa bertengkar. Akhirnya Do Yeon dan ayanya sepakat untuk berdamai dan saling bertukar kehidupan untuk sementara.  Ayah Do Yeon akan menjalani kehidupan sebagai seorang gadis SMA. Sedangkan Do Yeon akan menjalani kehidupan sebagai seorang ayah yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan.




Do Yeon lalu memberitahukan ayahnya tentang nama sahabatnya dan kebiasaannya di sekolah. Sedangkan ayahnya juga mengajari Do Yeon bagaimana cara bersikap di lingkungan kerja. Dari sini, keduanya menjadi sadar tentang beratnya menjalani kehidupan masing-masing. Ayah Do Yeon yang menggantikan Do Yeon disekolah merasa sangat stress karena ternyata menyerap pelajaran di sekolah sangat sulit. Akhirnya gara-gara ayah Do Yeon yang kesulitan mencerna pelajaran, Peringkat Do Yeon jadi menurun drastis. 



Lain lagi dengan Do Yeon yang mengantikan posisi ayahnya di kantor. Ia jadi sadar akan beratnya tanggung jawab Sang Ayah. Ayahnya dikucilkan dari rekan-rekan kantor yang lain. Menempati ruang kerja yang lebih mirip gudang. Dan bahkan sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan promosi jabatan. Do Yeon juga mulai sadar akan kondisi ayahnya yang semakin menua. Ia juga jadi tahu bahwa ayahnya bahkan tiap hari hanya memakai tas yang sudah sangat tua dan setelan jas yang warnanya mulai pudar demi untuk menghemat, agar dapat menabung demi biaya pendidikan Do Yeon.




Hum,,, filmnya bagus. Pesan moral untuk menghormati dan menghargai kerja keras seorang ayah juga tersampaikan dengan baik. Yang bikin tambah meleleh karena di scene akhir film diputarkan beberapa video anak gadis yang menyampaikan rasa cintanya pada Sang Ayah. Aku juga mau menyampaikan pesan cintaku buat ayah diakhir tulisan ini. Berharap ayahku juga membacanya suatu hari nanti.


And this my appa, my father, abbi tersayang. Yang bahkan dalam keadaan tersulit pun tetap berusaha memberikan senyuman untuk kami. Makasih ayah sayang,, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan berkah dalam hidup ayah..  sehat selalu dan maafkan putri mu ini yang masih belum bisa memberikan kebahagiaan buat ayah T_T



WE LOVE YOU SO MUCH

Pengalaman Ke Kantor Imigrasi Tahap Kedua


Bulan lalu tepatnya tanggal 12 Juli 2017, aku mencoba ke kantor imigrasi untuk yang kedua kalinya setelah pengalaman pertama, berkasku ditolak petugas. Ternyata ditolak petugas imigrasi tetap sakit juga rasanya,hahahah,, soalnya udah nunggu berjam-jam dengan sabar tetapi pas verifikasi, berkasku ditolak gara-gara aku tak memperhatikan kalo tanggal lahirku  berbeda antara Kartu Keluarga dan Akta Lahir. ckckckck

Dan setelah melakukan percobaan pertama, aku jadi sedikit tahu tentang bagaimana proses yang harus dijalankan untuk buat passport khususnya di Unit Layanan Pasport Kantor Imigrasi Kelas 1 Makassar. Yang harus dipersiapkan adalah Pertama, harus datang pagi-pagi sekali agar dapat nomor antrian. Kedua, siapkan kelengkapan berkas dan alat tulis, siapkan mental, dan sabar yang banyak ya. Soalnya prosesnya memakan waktu yang gak sebentar. 

Dan hari itu, aku berangkat pukul 6 lewat beberapa menit. Udah sarapan, bawa cemilan dan air minum di tas, serta sudah minta izin gak masuk kantor sehari. hahahah,, akhirnya dapat alasan untuk bolos sehari ^_^ yeay

Pas nyampe sana, ternyata yang nunggu di halaman kantor imigrasi sudah lumayan banyak. Agak berbeda dari waktu pertama kesana, dimana pintu kantor terbuka lebar dan orang-orang menunggu di dalam ruangan. Kali ini, pintu kantor hanya terbuka sedikit, dan orang-orang menunggu di halaman. Aku agak bingung juga, akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada ibu-ibu yang berdiri di sebelahku. 

"Maaf bu, ambil nomor antrian dimana?"
"Oh silahkan tulis nama di kertas yang dipegang bapak itu dek", sambil menunjuk seorang bapak yang berdiri di dekat pintu kantor.
Aku mengucapkan terima kasih lalu segera menghampiri bapak tadi. Dan,, aku menulis namaku di urutan 197. Urutan 1-196 sudah terisi. Bahkan kertas HVS dua lembar sudah hampir terisi penuhWoow,, angkanya lebih besar dari waktu percobaan pertama kali.  Sambil menunggu petugas imigrasinya datang, aku bergabung dengan kerumunan orang-orang yang berdiri di halaman gara-gara udah gak kebagian tempat duduk. Seorang ibu-ibu lalu mulai percakapan, dia bertanya pada anak laki-laki yang mungkin masih duduk di bangku SMA

"Nak tadi kamu kesini jam berapa"

"Jam 5 subuh saya sudah kesini bu untuk ambil nomor antrian, tetapi saya dapat nomor antrian 73"

terus orang disebelahnya ikut menjawab: "Kalo saya tadi kesini nya jam 3 subuh bu, saya dapat nomor antrian 8"

Mendengar percakapan itu, saya hanya bisa tersenyum kecut. Kupikirnya berangkat jam 6 itu sudah termasuk paling awal, ternyata orang lain berangkat lebih awal lagi. Sungguh luar biasa perjuangannya. Dan pukul 07.30, para petugas sudah berdatangan. Pintu kantor dibuka lebar. Beberapa orang kulihat masuk kedalam kantor. Sedangkan beberapa lainnya masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Aku mulai bingung sendiri. Ternyata eh ternyata, orang-orang yang masuk ke kantor imigrasi hari ini adalah orang-orang yang telah mengambil nomor antrian dari kemarin. Sedangkan yang ambil nomor antrian hari ini, baru bisa urus passportnya besok. Lalu tiba-tiba suasana jadi agak rusuh. Karena beberapa orang tidak mengerti prosedurnya. Kemudian petugas menjelaskan bahwa nomor antrian yang diambil hari ini hanya bisa digunakan besok. Dan petugas tak akan membagikan nomor kalo antriannya tidak rapi. Akhirnya diputuskan kalo orang-orang akan berbaris sesuai dengan nama yang tercatat di kertas tadi. Lalu satu persatu nama dipanggil untuk berdiri di dalam barisan. Orang yang namanya disebut dan gak ada ditempat maka langsung dicoret dari daftar. Hufftt kasian juga seh. 

Petugas memberi arahan...
Dan setelah antrian barisan rapi barulah petugas membagikan nomor antrian. Untuk mendapat nomor antrian itu, kita harus memperlihatkan KTP asli. Dan akhirnya aku yang tadinya berada di nomor 197 jadi naik dan mendapat nomor antrian 168 gara-gara banyak namanya disebut tetapi orangnya gak ada. Yah lumayanlah, berarti gak perlu datang terlalu pagi besok. Dan karena nomor antrian nya untuk besok, hari ini aku batal untuk bolos masuk kerja. Hahahah rencana bolos kerja gagal. Sebelum balik ke kantor, aku berkenalan dengan seorang cewek mungil yang juga sedang mengurus paspport. Namanya Via. Dia seorang mahasiswa tingkat 3. Awal tahun depan dia berencana untuk berangkat umroh bersama keluarganya. Kami lalu bertukar nomor handphone. Kebetulan dia mendapat nomor antrian 158. Jadi dia akan memberi informasi besok jikalau datang lebih dulu ke kantor imigrasi.

tolong abaikan foto KTP dengan wajah suram itu hahahah
Keesokan harinya sebelum pukul 9 aku terburu-buru keluar dari kost an. Gara-gara dapat telpon dari Via. Dia bilang sekarang sudah nomor antrian 100 lebih untuk verifikasi berkasnya. Dan apabila nomor antrian dipanggil, orangnya gak ada. Maka nomor antrian yang sudah di tangan akan hangus. Yang berarti kita harus ambil nomor antrian besok. Karena mendengar itu aku jadi panik banget. Rencana awal aku mau ke kantor dulu untuk finger print baru ke kantor imigrasi. Tetapi ternyata waktunya gak cukup. Jadi aku langsung menuju ke kantor imigrasi saat itu juga. Dan syukurnya perjalananku lancar dan cepat. Abang Gojeknya mengantarku ke kantor imigrasi dengan selamat. 

Syukur Alhamdulillah, nomor antrianku belum lewat. Dan seperti biasa kantor imigrasi hari itu juga penuh sesak. Beberapa orang menunggu nomornya dipanggil. Beberapa orang ngomel ngomel sendiri karena nomor antriannya telah hangus. Beberapa ibu-ibu mengeluh ke petugas memohon agar berkasnya juga diterima. Tetapi petugas tetap berpegang pada aturan yang berlaku. Yang terlambat datang berarti nomor antriannya hangus. Hum, dari sini saya belajar untuk lebih menghargai waktu. Jangan terus berpegang pada jam karet yang telah mengakar dan membudaya itu. Mari lebih menghargai waktu dan belajar untuk datang awal. 

Setelah menunggu beberapa menit, nomorku 168 dipanggil petugas. Aku lalu maju ke hadapan petugas dan menyodorkan berkas dan nomor antrianku. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut petugas tersebut adalah "Mau kemana?" Lalu kujawab: "Mau Liburan Pak". Ia lalu memeriksa berkasku. Mencocokkan identitas ku yang tertera di KTP, Kartu Keluarga, dan Akta Lahir. 

Ingat..semunya harus sama. Jika ada yang berbeda sedikit maka berkas akan langsung ditolak., sama seperti pengalamanku yang pertama. Karena hal itu aku lalu mengurus perubahan Kartu keluarga dan Akta Lahirku. Jadi sekarang semuanya sudah sama. Dan berkasku akhirnya lolos verifikasi. Yeay...

Petugas lalu menyodorkan amplop kuning yang berisi formulir yang harus diisi. Dan di map kuning itu juga tertera nomor antrian untuk foto dan wawancara. Karena tadi banyak yang telat datang, aku yang awalnya dapat nomor antrian 168 naik lagi menjadi 129. Alhamdulillah... buah dari menghargai waktu.
lumayan,, nomor antrianya naik lagi

Formulir yang wajib diisi
Karena tak ingin sendiri, aku terus mengekor pada Via dan saudara-saudaranya yang hendak mengurus passport untuk berangkat umroh. Karena terus mengekori mereka, aku jadi tahu ternyata berkas yang dibutuhkan untuk buat passport liburan dan passport umroh itu sedikit berbeda. Jika buat passport untuk keperluan liburan atau travelling, cukup mengisi formulir dan melampirkan fotocopy KTP, Kartu Keluarga, dan Akta Lahir pada amplop kuning tadi. Tetapi jika hendak berangkat umroh, selain mempersiapkan Foto copy KTP, KK dan akta lahir, juga harus melampirkan Surat Rekomendasi dari Kantor Departemen Agama dan Surat Rekomendasi dari Agen Travel. Dua surat rekomendasi harus ada dan diperlihatkan pada saat verifikasi berkas. Jika belum ada, berkas mu akan ditolak dan disuruh pulang untuk melengkapi kedua surat rekomendasi itu.

Berkas wajib bagi yang ingin berangkat umroh


So Crowded.... Penuh sesak
Setelah isi formulir dan memasukkan foto copy berkas di Map kuning, waktunya menunggu lagi untuk foto dan wawancara. Karena aku dapat nomor antrian 129, itu berarti giliran foto dan wawancaraku setelah dhuhur atau mungkin menjelang ashar. Kata petugasnya nomor antrian 80 ke atas bisa pulang dulu karena akan dilayani setelah waktu istirahat. Dan ternyata benar, nomor antrianku baru dipanggil hampir pukul 3 sore. Lumayan lelah menunggu. Sebelum masuk ke ruangan untuk foto dan wawancara aku deg deg an setengah mati. Takut dapat pertanyaan sulit yang tak mampu kujawab. Hahahah lebay level dewa. Pas dihadapan petugas, aku hanya di beri tiga pertanyaan. 
Pertanyaan pertama, "Mau kemana bu? 
Kujawab, "Mau liburan akhir tahun"
Pertanyaan kedua, "Ke negara apa?"
Kujawab, "Malaysia" kujawab sembarangan. Soalnya aku belum menentukan hendak liburan ke negara mana.
Pertanyaan ketiga, "Kerja di kantor apa?"
Lalu pertanyaan selanjutnya seputar produk dari kantor tempat ku bekerja.
Dan sesi wawancara gak sampai 10 menit. Udah selesai.
Lanjut ke sesi pemotretan, eh maksudnya foto untuk passport.
Jadi setelah wawancara, lalu pindah ke meja lain untuk pengambilan foto.
Kamera tertancap di sudut meja. Kita harus duduk tegap agar gambarnya bagus. Tetapi tiba-tiba petugasnya suruh aku memperbaiki jilbab yang kukenakan. Soalnya 75% wajah harus keliatan jelas. Aku agak dongkol karena disuruh bongkar jilbab lagi, soalnya tadi udah kupakai dengan baik. Tetapi aku masih mendingan cuma disuruh perbaiki jilbab. Adiknya Via malah disuruh ganti jilbab. Soalnya dia mengenakan jilbab warna putih. Dia disuruh pinjam jilbab lain yang bukan warna putih. Soalnya foto passportnya memakai latar putih. Jadi jilbab putih nggak boleh digunakan. Jadi ingat ya, saat ngurus passport jangan pake jilbab putih. 

Abis foto, terus rekam sidik jari. Sepuluh jari semuanya direkam. Abis itu kita disuruh untuk cek kembali data. Jangan sampai ada yang salah. Setelah itu, tunggu resi pembayarannya di print. Dan prosesnya selesai. Kita bisa langsung membayar biaya pengurusan passport di seluruh bank atau kantor pos. Dan silahkan kembali lagi untuk mengambil passportnya setelah empat hari kerja. 



Resi pembayaran

Bisa di bayar di kantor pos loh ^_^
Dan setelah sesi foto dan wawancara, aku langsung ke kantor pos untuk bayar biaya pengurusan passportnya. Aku bayar di kantor pos, soalnya malas ngantri di bank. Sekalian mau beli perangko juga. Jadi sambil menyelam minum air hohoho. Total pembayarannya Rp 355.000,- Kemudia setelah menunggu empat hari kerja setelah pembayaran, kita sudah bisa kembali ke kantor imigrasi untuk ambil pasportnya. Prosesnya lebih mudah dibandingkan dari saat akan foto dan wawancara. Jadi cukup datang ke kantor imigrasi. Untuk ambil passport silahkan datang di jam 10.00-15.00 WITA. Lewat dari itu mungkin tak akan dilayani.

Jadi pas datang, silahkan langsung ambil nomor antrian di meja tempat verifikasi berkas. Disitu akan selalu ada petugas stay kecuali jam istirahat. Silahkan tunjukkan bukti pembayaran pada petugas, lalu petugas akan memberi kita nomor antrian. Setelah dapat nomor antrian, langsung menuju ke lantai dua. Antrianya tidak akan sebanyak dan selama saat baru akan buat passport. Gak cukup setengah jam menunggu, passportku udah ada di tangan. Petugas lalu akan mengarahkan untuk tanda tangan diformulir yang dilampirkan dalam map kuning. Setelah itu tanda tangan di halaman belakang passport. Abis itu fotokopi halaman depan passport. Dan passport kamu siap untuk digunakan... 

Yeay... langkah pertama untuk travelling sudah selesai. Tinggal nabung aja.. hahahah, dan nabung itu tahap yang paling susah diantara semuanya.

*Note: Pengalaman yang kuceritakan diatas adalah pengalaman saat aku mengurus pembuatan passport di Unit Layanan Passport Kantor Imigrasi Kelas 1 Makassar. Tahapnya bisa jadi sama atau mungkin akan sedikit berbeda dengan kantor imigrasi yang lain. Semoga bermanfaat 



Saturday, August 12, 2017

Lagi senam jari aja

Dan.... draft tulisanku numpuk di folder draft blog. Dari seminggu lalu, tak ada satupun yang kuposting. Tiba-tiba terjangkit virus susah untuk menyelesaikan tulisan. Aku punya banyak sekali ide di kepala untuk kutuliskan. Saat mulai menuliskannya di blog sampai dua paragraf tiba-tiba stuck. Aku kehabisan kata-kata dan akhirnya kusimpan di draft dulu. Berharap saat mood ku bagus aku bisa menyelesaikan tulisan itu. Tetapi satu dua tiga tulisan semuanya hanya bisa kumulai saja. Dan tak sanggup kuselesaikan. Dan akhirnya numpuk hingga 12 tulisan di draft. Ckckck

Aku merileks kan diri sejenak dengan mendengar musik, dengan membaca buku dan menonton film. Tetapi lagi-lagi yang ada malah ide baru tulisan. Dan tulisan lama kutinggalkan menumpuk. Dan bernasib sama dengan tulisan sebelumnya, tulisan baru tersebut hanya sampai dua paragraf saja. Huffft

Aku lalu blogwalking dan baca-baca tulisan dari blogger lain. Berharap tiba-tiba semangat menulisku meningkat. Tetapi kenyataannya, sehabis baca tulisan dari blogger lain, aku malah down. Aku ngerasa kalo tulisanku sampah banget. Gak penting. Terus susah untuk dipahami. Ya Allah,, kok malah tambah susah untuk nulis yah. Hufftt

Lalu seorang teman menyarankan untuk menyelesaikan satu tulisan saja dulu terus langsung diposting. Tuliskan saja isi kepala, isi hati atau uneg-uneg yang terpendam supaya jari-jarinya bisa senam dan bergerak lincah di atas keyboard. Dengan begitu perasaan akan jadi lebih plong. Nah setelah itu baru balik ke draft yang lama. Tulis sedikit demi sedikit terus posting. Jangan berpindah sebelum satu tulisan itu rampung. Dengan begitu, isi draft sedikit demi sedikit berpindah ke kelompok tulisan yang telah diterbitkan. 

Kembali ke niat awal nulis itu apa? kalau aku sendiri nulis blog untuk menyimpan kenangan, untuk menyembuhkan hati yang sakit, dan sebagai tempat curhat. Kalo begitu, tak perlu memusingkan tentang pendapat orang lain dulu. Karena sesungguhnya setiap tulisan itu baik selama tidak mengadung unsur SARA, kalimat provokasi atau pornografi. 
Jadi menulislah,, walaupun tulisanmu jelek. Hahahaha. Never Give Up... Nanti lama kelamaan, tulisan-tulisanmu akan menemukan alur nya sendiri. Dan bisa lebih enak lagi untuk di baca. Ini nasehat untuk diriku sendiri sebenarnya. 

Dan kalau kamu mau nulis dan stuck banget,, mungkin bisa diawali dulu dengan segelas es kopi,,, seperti yang kuminum sekarang sambil menarikan jari-jariku diatas tuts

Sunday, August 6, 2017

Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang


Masih dalam rangka menulis untuk #1minggu1cerita dan kali ini temanya adalah tentang Disiplin Diri. Tema ini sangat berat menurut saya. Hehehe karena saya sendiri bukan tipe orang yang disiplin. Bahkan untuk menulis dan memposting satu tulisan satu minggu saja sudah sangat sulit. Syukurlah saat ini aku bergabung di 1minggu 1 cerita. Jadi aku akan tetap berusaha menulis di blog ini walau itu hanya curhatan tidak penting. Katanya Bang Phad "Supaya blognya tidak seperti ruang hampa, maka menulislah walau hanya 1 minggu 1 cerita ^_^"

Dari kecil sudah sering diingatkan bahwa disiplin adalah kunci sebuah kesuksesan. Bahwa disiplin adalah syarat mutlak untuk mencapai sesuatu yang kita impikan. Bahwa Disiplin adalah kualitas pembeda antara orang yang kalah dengan orang yang menang. Bahwa Disiplin adalah jaminan atas kesukesan anda. Dan ada banyak lagi kata-kata bijak lain yang berkaitan dengan Disiplin ini. Mengapa sangat banyak? Karena memang disiplin ini sangat penting untuk kehidupan kita. Dan parahnya, hanya sedikit orang yang berhasil menerapkan sikap disiplin ini dalam keseharian. Dan diriku adalah salah satu dari banyak orang yang sangat susah untuk menerapkan disiplin diri.

Walaupun aku tahu, walaupun aku paham betul, tetap saja disiplin ini sangat sulit untuk kulakukan. Seringnya kata-kata itu hanya melekat sepintas di otakku lalu menghilang bersama angin. Seringnya sikap disiplin ini kutuliskan di jurnal harian, berjanji akan menerapkannya, tetapi yang terjadi janji hanya tinggal janji. 

Sama dengan waktu SD dulu. Saat mendapat tugas membuat agenda kegiatan sehari-hari dari Guru Bahasa Indonesia. Waktu itu, kuingat diriku mengerjakannya dengan sangat antusias. Aku menetapkan dalam hati, bahwa agenda yang kubuat ini akan kujalankan sebaik-baiknya dan kutaati hingga menjadi kebiasaan baik. Lalu kususun agenda kegiatan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali dengan sangat sempurna. Membagi waktu untuk istirahat, untuk belajar, untuk bermain, dan membantu ibu di rumah. Kemudian kutempel di dinding kamar. Tentunya setelah kuhiasi dengan berbagai macam warna dan bunga-bunga. Tujuannya supaya aku tidak jenuh saat melihatnya. Lalu keesokan harinya mulai kulaksanakan. Kupasang alarm agar bisa bangun pagi seperti yang kususun di agenda kegiatanku. 

Susunannya kurang lebih seperti ini: Pukul 05.00-06.00 pagi: Bangun pagi, Mandi Pagi, Shalat Subuh, Membaca Al Qur'an. Pukul 06.00-06.45: Membaca buku pelajaran lalu Sarapan pagi. Pukul 06.45-13.30: Berangkat kesekolah dan melakukan Kegiatan belajar di sekolah. Pukul 14.00-15.30: Makan siang, cuci piring, mengulang pelajaran, Mandi Sore lalu Sholat Ashar. Pukul 16.00-18.00: Membersihkan rumah, Main bersama adek, lalu menonton TV. Pukul 18.00-20.30: Sholat Maghrib, mengaji, Sholat isya, membantu ibu, Makan malam, cuci piring, lalu mengerjakan PR. Pukul 21.00: Tidur. 

Di hari pertama, kedua, dan ketiga aku sangat bersemangat untuk menjalankan agenda itu dengan sebaik-baiknya. Hari keempat dan kelima, aku mulai jenuh dan bosan. Hari keenam dan ketujuh, aku mulai menghilangkan beberapa agenda kegiatan yang sulit kukerjakan seperti mengulang pelajaran dan mandi sore (*hohoho dasar anak nakal). Hari kedelapan, aku berhenti melaksakan agenda itu. Hari kesembilan dan seterusnya tempelan agenda kegiatan itu dipenuhi sarang laba-laba, berdebu, dan akhirnya copot sendiri dari dinding kamarku. *ckckkckc   

Menjaga kedisiplinan itu sulit sekali. Makanya butuh kesabaran dan semangat pantang menyerah. Yang kutahu, untuk menjaga sikap disiplin diri dan menjadikannya sebuah kebiasaan maka dibutuhkan waktu 40 hari. Segala kebiasaan baik yang hendak kita bangun harus kita ulang-ulangi sampai 40 hari tanpa terputus. Sekali terputus, maka kita harus mengulangi lagi dari awal. Sebaliknya, dengan pengulangan dan latihan terus menerus selama 40 hari, keahlian atau kebiasaan apapun itu, kalau kita bertekad untuk menguasainya maka kita pasti bisa. Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku dari Felix Siaw "How To Master Your Habits" 

Disiplin itu sangat berat dan menyakitkan. Terutama jika kita harus bertarung melawan kesenangan diri sendiri. Memaksakan diri untuk tidur lebih sedikit agar bisa bekerja lebih banyak. Memaksakan diri untuk melawan rasa malas agar tubuh lebih banyak bergerak. Memaksakan diri untuk melawan rasa ingin makan lebih banyak agar tubuh tidak jadi bengkak, dan timbunan lemak dimana-mana. Hal itu sangat berat untuk dilakukan,,, akan selalu ada bisikan-bisikan jahat yang muncul dari dalam diri agar menunda untuk melakukan kebiasaan baik itu. 

"Bagaimana kalau olahraga paginya dimulai besok saja, hari ini boleh tidur sepuasnya dulu"

"Bagaimana kalau menulisnya pagi hari saja, malam ini boleh nonton dulu"

Yah, bisikan untuk menunda-nunda seperti itu yang seringkali menghancurkan pertahanan disiplin diri. Tetapi para mental pemenang akan sadar bahwa rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan untuk menerapkan disiplin pada diri itu sifatnya hanya sementara. Sedangkan hasil yang bisa kita dapatkan berefek untuk selamanya. 

Filsuf Yunani Plato mengatakan bahwa kemenangan pertama dan terbaik adalah menaklukan diri sendiri. 
Sedangkan Oswald Sanders mengatakan bahwa Orang hanya bisa mencapai potensi maksimal mereka dengan disiplin.
Sedangkan Aristoteles berkata bahwa Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Keunggulan bukanlah sebuah tindakan melainkan sebuah kebiasaan.

Jadi, jika ingin menjadi pribadi yang baik. Mari mulai mendisiplinkan diri dengan hanya berpikir yang baik, berbicara yang baik, dan melakukan hal yang baik saja.Sebab apa???
sebab Kita adalah apa yang kita lakukan berulang ulang