Thursday, February 23, 2017

CerBung: Seulas Senyum itu (Part Ending)

Sejak hari itu, aku dan Kak Hafizh jadi lebih dekat. Tetapi bukan secara fisik. Kami bahkan tak pernah bertatap muka langsung. Kak Hafizh sudah menyelesaikan studinya di kampus. Jadi kami hanya berkomunikasi lewat sms, kirim-kirim chat lewat facebook dan telpon-telponan. Awalnya ini bikin deg-deg an, dipertengahan bikin hati berbunga-bunga, pas lama kelamaan entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Fokus ku mulai terganggu. Tiap hari waktuku habis hanya untuk menunggu telpon dari Kak Hafizh. Setiap hal yang kulakukan, wajah Kak Hafizh selalu terbayang. Kalau mau diceritakan yang kurasakan jadi mirip-mirip sama lagu nya Duo Ratu. 

"Aku mau makan kuingat kamu
Aku mau tidur juga ingat kamu
Aku sedang sedih kuingat kamu
Oh, cinta mengapa semua serba kamu"

Karena pikiranku sepertinya dipenuhi wajah Kak Hafidz. Akibatnya ibadah, belajar, dan fokusku dalam mempersiapkan ujian final jadi agak terganggu. Aku belum terlalu sadar hingga pada suatu ketika saat mengikuti Kajian Muslimah Rutin, aku merasa seakan-akan ditampar halus. Tuhanku yang Maha Pengasih mengingatkan diriku lewat ceramah Udztasah Nita. Beliau membacakan Q.S An-Nur:30

"Katakanlah kepada Laki-Laki yang beriman, Hendaklah menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat"

Lalu dipertegas dengan HR.Bukhari No.6243

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” 

Dari kajian malam itu aku jadi tersadar bahwa segala yang menyerang pikiran dan hatiku saat ini,sehingga menjadi kacau adalah karena aku tak mampu menjaga pandanganku. Aku telah memandang sesuatu yang bukan hakku. Karena memandang, hatiku jadi terpaut. Sehingga timbul hasrat dalam hati untuk tak hanya memandang saja tetapi juga memiliki. Na Udzubillah Min Dzalik. Aku merasa sangat menyesal. Aku ingin bertobat dan mengakhiri hal ini.Dan sejak saat itu, aku memilih untuk memutuskan komunikasiku dengan Kak Hafizh. Kuhapus pertemanan Facebookku dengannya lalu kukirimkan pesan singkat via sms.

"Maaf kak sebelumnya, sepertinya ini akan jadi komunikasi terakhir kita untuk saat ini. Karena aku sementara fokus untuk menghadapi Ujian Final. Dan beberapa pekan kedepan aku juga akan berangkat untuk KKN. Jadi mohon maaf sebelumnya jika besok-besok aku tak menanggapi telpon atau sms Kak Hafizh. Terima Kasih. Wassalam"

Aku menulis pesan itu setelah berpikir keras untuk menemukan alasan yang tepat. Kuharap Kak Hafizh tak tersinggung dengan kata-kataku dan bisa memahaminya. Aku ingin hijrah dari seseorang yang dulu pernah lalai menjadi lebih taat pada perintah Tuhanku. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan lebih penting aku ingin menjaga hatiku. Menjaga hingga tiba saatnya, hatiku bisa benar-benar mencintai seseorang yang sudah halal untuk ku.

Berhari-hari aku menunggu tetapi balasan sms dari Kak Hafidz tak kunjung datang. Karena hal itu aku menjadi sedikit sedih. Aku berharap Kak Hafidz bisa memahami diriku. Aku tak ingin meninggalkan kesan yang buruk di matanya. Karena di hati kecilku, aku masih terus berdoa agar kelak dia yang menjadi imamku. Untuk saat ini, tak berkomunikasi adalah jalan terbaik untuk kami berdua. Aku percaya jika nantinya kami berjodoh, Tuhan akan menyatukan kami kembali lewat cara-cara yang indah. Tetapi jika seandainya kami tak berjodoh, tak ada yang perlu disesali.

Pertemuanku dengannya sungguh sangat indah. Melihatnya melakukan kebaikan, menjadi motivasi juga buatku untuk melakukan kebaikan setiap ada kesempatan. Dimana saja, Kapan saja, dan kepada siapa saja. Sosok Kak Hafidz bagiku seperti hujan. Dan Aku juga ingin seperti hujan. Hujan yang tak pilih-pilih kasih dalam menurukan titik-titik airnya. Hujan yang selalu setia mengirimkan hawa sejuk dan menyirami tanah yang kering kerontang. Hujan tak pernah berharap imbalan apa-apa. Entah iya dipuji atau dicaci maki, iya tak peduli dan tetap turun dengan syahdu.

Maret 2014, kucatat sebagai perpisahanku dengan Kak Hafizh.

Tiga tahun telah berlalu sudah. 

Dan malam ini adalah malam ketiga aku selalu memimpikan dirinya. Aku selalu berharap dia baikb-baik saja dimanapun ia berada saat ini. Dan seperti yang telah kuceritakan ini adalah kisah penantianku selama 10 tahun lamanya. Menyukainya dalam diam, memilih menjauh darinya untuk mengharap Ridho Allah, tetapi tak lupa terus mendoakannya. Karena tidak ada yang lebih indah dibandingkan terus menyebut namanya dalam doa-doa yang terus dipanjatkan dalam senyap malam. Yah, separuh hatiku telah ikhlas, tetapi separuh hatiku yang lain masih mengharapkan dirinya. 

Semuanya berjalan baik-baik saja kecuali pertanyaan kapan nikah? yang terus didengungkan oleh orang-orang sekitarku. Malam ini selepas ngantor, aku berencana untuk jalan-jalan sejenak ke Pasar Malam yang letaknya tak jauh dari Bibir Pantai. Saat menyenangkan berjalan-jalan sendiri seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang terus menggangu pikiranku dikalahkan oleh suara riuh orang-orang yang membeli dan menjual barang-barang. Suara Debur ombak juga ikut menjadi relaksasi bagi hatiku yang serasa kosong ini. Tiba-tiba dari kejauhan kulihat sosok yang kukenal. Dia mengenakan Kemeja Putih yang ujung lengannya digulung. Celana kain hitam polos dan tas ransel biru dongker. Aku merasa tak asing dengan sosoknya. Aku mencoba bergerak mendekati dia yang sedang sibuk melihat-lihat jam tangan. Dan beberapa meter dari sosok itu, nafasku tercegat di kerongkongan. Kakiku mendadak berhenti di tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Tiba-tiba tubuhku membatu ditempat. Itu benar dia. Kak Hafidz. Seseorang yang kucintai dalam diam selama sepuluh tahun lamanya. Sejenak aku merasa  bahagia karena ternyata dia baik-baik saja. Dia masih sama seperti dulu. Berpenampilan sederhana namun tetap menawan. Lalu entah karena apa, ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Pandangan kami lalu bertabrakan. Aku lalu menundukkan pandangan dan segera berbalik badan dan bergerak menjauh.

"MIra.. hai Mira kan?" tiba-tiba saja ia sudah ada di hadapanku dan menghalangi jalanku.

Aku yang tak tahu harus berbuat apa-apa lalu mendongakkan kepalaku dan melihat wajahnya. Aku tersenyum sebisaku.

"Iya, saya MIra kak. Kak Hafidz apa kabar?" jawabku agak terbata-bata

"Astaga, ini benar kamu Mir. Wuah, kupikir tadi aku salah orang. Alhamdulillah aku baik. Kamu gimana kabarnya? kamu jalan sendiri? Suamimu mana? Eh kamu sudah menikah atau belum?" katanya sambil tersenyum

Senyum itu juga masih tetap sama. Senyum bersahaja yang meluluhkan hatiku.

"Iya ini saya kak. Alhamdulillah saya juga baik. Saya lagi jalan sendiri saja. Dan saya belum punya suami kak. Saya belum ketemu jodoh",kataku sambil menunduk. Ditanya seperti itu wajahku langsung merah membara.

"Oh Ok, kalau begitu saya minta Pin BB kamu. Supaya kita bisa komunikasi lagi. Beberapa tahun lalu, hapeku kecebur di air. Jadi semua kontak dan pesan darimu terhapus. Aku jadi tak bisa menghubungimu sejak hari itu"

"What??? hapenya Kak Hafizh rusak jadi tak bisa menghubungiku. Itu berarti ia tak menghubungiku bukan karena sms kejamku yang tiba-tiba minta jangan diganggu. Huft syukurlah kalo begitu" gumamku dalam hati

"Ok ini Pin BB ku" kataku sambil menyodorkan smartphone ku. 

"Kalau begitu saya permisi duluan kak, saya barusan dapat telpon dari orang rumah, disuruh cepat pulang." kataku beralasan ala anak SMP

"Ok, kalo begitu titip salam buat ayah dan ibumu ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi"

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Kak Hafidz, aku lalu menerima panggilan telepon.

"Assalamualaikum MIr. Ini aku Hafidz. Ahad ini ayah dan ibumu ada di rumah?"

"Iya kak, ayah dan ibuku ada di rumah kok. Kita tak punya agenda khusus weekend nanti"

"Oh, kalau begitu pas. Kalau kamu mengijinkan, ahad ini aku akan datang bersama orang tuaku untuk mengkhitbah dirimu. Itupun kalau kau mengijinkan dan belum punya calon". katanya dari balik telepon

Hatiku gemetar mendengarnya. Masya Allah inikah jawaban dari doa-doaku selama ini. 
Hati yang ditakdirkan bersatu, akan tetap bersatu jua walaupun terpisah sekian lama. 
Aku mengangguk dan tersenyum simpul. 

"Aku belum punya calon kak. Silahkan datang kapan saja. Insya Allah orang tuaku akan senang hati menerima Kak Hafidz dan keluarga"

Dua bulan setelah Kak Hafidz resmi mengkhitbah diriku. Alhamdulillah, berkat ridho dari Ilahi. Semuanya berjalan dengan sangat lancar hingga Ijab Qabul telah terucap. 

Beberapa hari setelah kami resmi menjadi suami istri, aku kemudian bertanya pada Kak Hafidz
"Kak, dulu waktu kita baru ketemu setelah  sekian lama. Apa yang membuat Kak Hafidz yakin untuk memilihku? Bukan gadis lain, yang lebih cantik, lebih cerdas dan lebih sholehah?"

"Aduh istriku sayang, sebenarnya aku malu mengatakan ini" kata Kak Hafidz tertunduk malu

"Ayolah cerita, aku sangat ingin tahu" kataku penasaran

"okey kalo gitu kamu duduk manis dan dengarkan ceritaku. Sebelum ceritanya selesai, jangan menyela. Okay?"

"okey" kataku bersemangat

"Sebenarnya aku telah menyukaimu dari dahulu kala. Sejak aku masih berseragam putih abu-abu dan kamu masih berseragam putih biru. Waktu itu aku pertama kali melihatmu saat hujan turun sangat deras. Aku melihatmu berlari-lari riang dengan payung di tanganmu. Tiba-tiba kau berhenti di dekat tempat sampah. Aku melihatmu berjongkok di sana agak lama, lalu tiba-tiba kau berlari meninggalkan payungmu di dekat tempat sampah itu. Waktu itu kupikir kau anak kecil nakal yang sedang ingin main hujan-hujanan ke sekolah. Tetapi saat aku mendekati tempat sampah itu. Aku terharu ketika melihat di bawah payung yang kau tinggalkan ada tiga kucing kecil lucu yang sedang kedinginan. Saat itu kupikir hatiku telah dicuri olehmu. Aku sangat senang ketika melihat ternyata kita satu sekolah saat SMA. Kau tak tahu bahwa aku sering curi-curi pandang untuk melihatmu. Karena sering memperhatikanmu, aku tahu bahwa kau gadis periang yang selalu ceria. Aku melihat kau dikelilingi oleh orang-orang baik. Tetapi saat itu aku tak ingin mengusikmu. Makanya aku tak berani menyapamu. Dan kau tak tahu betapa aku sangat bahagia saat tahu bahwa kita kembali dipertemukan di bangku kuliah. Aku mencari-cari alasan untuk dapat nomor ponsel mu dari temanku. Semakin mengenalmu aku menjadi semakin tertarik. Dulu aku ingin langsung melamarmu setelah aku lulus kuliah. Tetapi kemudian aku ingat bahwa kau pernah bilang tak ingin menikah muda. Kau ingin berbakti pada orang tuamu dulu. Dan menyekolahkan adik-adikmu. Jadi saat kontakmu hilang. Aku tak berusaha mencari tahu. Aku ingin menunggu beberapa tahun lagi. Agar aku merasa pantas menjadi pendampingmu. Tiap hari aku berdoa agar Tuhan menjaga hatimu dari pria lain. Maka saat kita bertemu lagi dan kutau kau masih single. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melamarmu. Aku ingin kau menjadi bidadariku di dunia dan di akhera kelak" 

Mendengar penuturan itu, air mataku menetes deras. Aku sangat terharu dengan skenario Tuhan yang begitu Indah ini. Sungguh jika hati telah ditakdirkan bersatu maka sejauh apapun ia terpisah, kelak akan bersatu lagi. Kak Hafidz seseorang yang kukagumi dan kucintai dalam diamku ternyata juga menyimpan rasa yang sama denganku. Sujud syukur ku tak terhingga atas segala karunia ini. Aku tahu bahwa jalan kami ke depan masih sangat panjang. Tetapi aku yakin bersama Kak Hafidz, Insya Allah kami akan meraih Surga Ilahi. Amin Ya Rabbal Alamin 


Source: https://izdihaarblog.wordpress.com

#WritingChalleng from My Best friend
Hope this ending can be true in your true life ^_^
Amin Ya Rabbal Alamin

Sunday, February 19, 2017

Aku Juga Ingin Menikah..

Akhir-akhir ini, entah kenapa jadi sering baper. Mungkin efek cuaca dingin. Hujan yang turun dari pagi hingga siang hari sukses, bikin aku jadi baper sendiri. Pas, lagi merenungi nasib, eh.. teman sebelah putar lagu BBB judulnya "Ingin Menikah". Ckkckck, tingkat baperku jadi tambah parah. Tetapi ada bagusnya juga. Karena aku jadi punya bahan untuk menulis di blog ini. Hehehe. Baper ternyata bisa bikin ide-ide bermunculan. Wkwkwkwkwk

Hujan turun disiang cerah, pertanda baik atau malah sebaliknya
Hampa hati lama sendiri, walaupun ada cinta tak bertahan lama.
Kuingin menikah seperti yang lain bukankah cinta itu hak semua insan
Akankah cinta datang menyunting hatiku? Datanglah oh cinta aku ingin menikah"

Ketika usiaku tinggal menghitung jari menggapai angka 30.Ketika aku mulai minder karena satu persatu teman sudah membawa "buntut" saat reunian. Ketika keluarga besar mulai ribut bertanya kapan mengenalkan orang special. Ketika mulai jenuh ditanya kapan nikah??? Saat itu rasanya pengen teriak, iya aku juga ingin menikah. Saat itulah aku harus mulai berlatih sabar lebih dalam. Tetap berkepala dingin untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Yang penting ada yang ngajakin nikah, yok ajalah... Oh tentu tidak. Menikah perlu banyak pertimbangan, jadi nggak boleh asal terima saja. 


Source:http://www.psychologymania.net
Beberapa waktu lalu, aku ikut seminar yang judulnya Saatnya untuk Menikah. Disitu pematerinya bilang, Jangan sampai kita menikah hanya karena malu dianggap perawan tua. Jangan juga kita menikah hanya karena panas karena selalu dikompor-komporin tetangga. Dan Jangan juga  kita menikah hanya karena terlalu lelah sendiri. Jangan... jangan seperti itu. 

Kata Pak Uztadsnya, menikah itu ibarat kita akan mengarungi samudera yang luas. Yang pertama harus diluruskan adalah niat. Disini niat kita haruslah tentu untuk beribadah kepada Allah Swt. Bukankan segala hal yang kita lakukan di dunia semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Betul??? Jadi kalo niatnya nikah karena takut dibilang gak laku-laku, mending niatnya diperbaiki dulu, baru nikah.

Nah, yang kedua adalah Tetapkan tujuan kita. Tujuan kita nikah untuk apa? Rumah tangga nya mau di bawa kemana? Kita harus memiliki visi dan misi yang jelas. Sampe sini, serasa ribet banget yah. Iya emang ribet. Karena menikah itu bukan hanya perkara setahun atau dua tahun. Tetapi melewati sisa hidup kita bersama pasangan halal kita itu. Jadi harus jelas visi dan misinya. Sebagai seorang muslim, tujuan akhir kita tentulah surga. Kita ingin pasangan kita di dunia, juga menjadi pasangan kita di akherat kelak.

Kira-kira bagaimana bisa mencapai itu? itu yang perlu dirumuskan bersama-sama dengan pasangan kita. Kalau pernikahan adalah Kapal. Maka posisi Kapten tentulah dipegang oleh suami. Sedangkan Sang Istri memegang posisi sebagai Navigator. Harus ada kerjasama yang baik antara Sang Kapten dengan Navigator nya. Supaya Kapalnya bisa menerjang ombak dan bertahan di tengah badai. Kalau visi dan misinya jelas, maka Kapal pasti bisa berlabuh di pulau impian. 

Nah, yang ketiga adalah berhati-hati dalam masa penantian jodoh. Masa penantian jodoh jangan dicederai dengan hal-hal yang melanggar syariat seperti pacaran atau TTM an. Tetap jaga diri dan jaga hati. Sebaik-baiknya hubungan antara pria dan wanita adalah yang telah disahkan lewat Ijab Qabul. Saat Ijab Qabul terucap, Arsy akan berguncang karena beratnya perjanjian manusia dihadapan Tuhannya, yang disaksikan oleh manusia dan para malaikat. Saat Ijab Qabul terucap berarti Seorang suami telah berjanji dihadapan Rabb nya bahwa Ia siap menanggung dosa dari Sang Istri apabila tidak menutup aurat dan meninggalkan sholat. Suami akan menanggung semua dosa istri dan calon anak-anaknya. Jika ia gagal mengemban amanah itu, maka Suami termasuk kaum fasik yang ingkar. Suami rela masuk api neraka dan rela malaikat menyiksa tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Karena beratnya amanah pernikahan ini, itulah mengapa ia disebut sebagai penyempurna separuh agama. Dan Surga seorang Istri atas Ridho dari suami nya.



Dan mengenai diriku yang sudah berada di usia yang sudah tak muda lagi, walaupun belum bisa dibilang terlalu tua juga seh. Tetapi usiaku sekarang ini sudah lewat dari usia menikah yang dulu kuimpikan. Iyah, dulu aku mengimpikan sudah memiliki pasangan halal di usia 25 thn. Tetapi apa daya, harapan hanya tinggal harapan. Angka 25 atau yang lebih ekstrem sering kusebut seperempat abad kini telah lewat. Dulu, aku meyakini usia 25 tahun adalah saat yang pas untuk membina rumah tangga. 

Menurutku di usia itu, aku sudah lulus kuliah. Udah punya penghasilan tetap walaupun belum terlalu mapan. Dan menurutku tingkat kematangan jiwa dan mental juga sudah lumayan baik. Tetapi setiap orang kan beda-beda. Itu hanya menurutku saja...

Dan Eng Ing Eng.. Waktu  ternyata berlalu cepat sekali. Usiaku sudah lewat dari Angka 25. Gak terasa banget... rasanya baru kemarin usiaku masuk angka 20 tahun. Eh, sekarang tinggal menghitung jari sudah masuk angka 30. Lalu apa aku harus nangis di pojokan? atau marah-marah pada Tuhan karena belum mengirimkan jodoh padaku? Oh tentu saja tidak.

Menurut pemahamanku Jodoh, Rezki dan Ajal itu Rahasia Tuhan. Kalo Ajal sudah pasti akan datang. Entah kita siap atau tidak. Entah kita menunggunya atau tidak. Sedangkan Rezeki tidak boleh hanya ditunggu tetapi perlu diusahakan supaya dia bisa datang. Nah kalau Jodoh, iya diantara keduanya. Antara Berusaha dan Menunggu. Jodoh mungkin saja datang, mungkin juga tidak. Karena kita tak pernah tahu batas usia kita. Walaupun begitu kita tak boleh lantas berpangku tangan menanti datang nya jodoh kita. Karena jodoh juga harus diusahakan. Kita sudah terlalu sering diingatkan bahwa Wanita baik-baik hanya untuk lelaki yang baik-baik dan Wanita yang tidak baik hanya untuk lelaki yang tidak baik. Diusahakan untuk memantaskan diri dulu. Diusahakan untuk membuat diri jadi pribadi yang lebih baik dulu. Diusahakan untuk membuka diri pada siapa saja. Tetapi gak perlu terlalu ngotot juga. Karena yang namanya Jodoh itu dimanapun ia berada. Kalo emang jodoh pasti akan bersatu juga. 
Rindu menggenggam tangannya http://sifaloveshijab.com

Dan yang paling penting tetap berprasangka baik bahwa Jodoh itu akan datang. Ia akan datang disaat dan waktu yang tepat. Kalau bukan di dunia, semoga bisa bertemu di Surga kelak. Jadi kalau sekarang jodoh itu belum datang. Berarti Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk melatih diri menjadi pribadi lebih baik lagi. Tuhan juga memberi kita lebih banyak waktu untuk fokus berbakti pada kedua orang tua dulu. Bukan berarti setelah menikah, kita akan melupakan orang tua. Tidak.. Hanya saja setelah menikah, fokus kita akan terbelah antara merawat keluarga kecil kita serta berbakti pada orang tua.

Mari lihat sisi positifnya ^_^ bahwa saat kita masih sendiri seperti sekarang berarti kita punya banyak waktu luang untuk mengembangkan minat dan bakat. Memiliki banyak waktu luang untuk  mengunjungi tempat-tempat indah dan berkenalan dengan lebih banyak orang. Mari buka diri dan lihat bahwa Dunia ini terlalu indah untuk kita lewatkan begitu saja hanya karena galau memikirkan bahwa saat ini kita masih sendiri.





Friday, February 17, 2017

CerBung "Seulas Senyum itu Part 2"

Setelah semalaman hati gak tenang. Perasaan bahagia bercampur aduk dengan perasaan deg-degan. Ternyata hari ini, aku malah kecewa berat. Kak Hafizh yang nelpon suruh datang pagi-pagi, malah gak keliatan batang hidungnya sampe acara Seminarnya mau mulai. 

Bang Ippang, selaku ketua panitia seminar lalu memberi kode padaku agar memulai pembukaanya..

"Yah, gagal deh melihat senyum Kak Hafizh pagi ini", gumamku dalam hati

Tetapi rasa kecewaku lalu terusir oleh rasa grogiku di menit-menit awal memulai acara. Tiba-tiba penyakit demam panggung ku kambuh lagi. Ah,, tanganku gemetaran. Teks yang kupegang sejak dari tadi mendadak kabur. Rasanya jantung ku hampir meledak gara-gara gugup. Lalu kutarik nafas panjang, menahannya beberapa detik. Lalu kuhembuskan kembali. Hal ini sedikit mengurangi rasa gugupku. Kuulangi beberapa kali. Dan tiba-tiba hidungku mendeteksi wangi tak asing. Eh, ini bau parfumnya Kak Hafizh. Refleks mataku mengitari isi ruangan mencari pemilik senyum bersahaja itu. Dan benar, itu Kak Hafizh. Dia berdiri pas di pintu masuk. Sedang bercakap dengan panitia lain. Kuperhatikan dia dari kejauhan. Hari ini dia memakai Kemeja Putih Panjang dengan ujung lengan yang digulung. Huah,,hari ini dia keliatan keren. Entah karena apa, setelah melihatnya hatiku menjadi tenang. Aku berhasil membawakan Pembukaan Seminar dengan baik. Rasa Gugup ku mendadak hilang saat tahu Kak Hafizh sudah datang di tengah-tengah acara. Apa ini yang dikatakan orang bahwa "Cinta adalah sumber kekuatan". Yah mungkin saja.

Bang Ippang lalu menghampiriku yang sedang sibuk beres-beres peralatan.

"Mira, makasih ya udah membantu. Maaf karena kita suruh kamu jadi MC dadakan. Tetapi walaupun dadakan, kamu tetap keren loh"

"Hihihi, sama-sama Bang. Senang bisa membantu"

Dari kejauhan kuliat Kak Hafizh sedang melihat kearah kami. Ia lalu menaikkan jempolnya. 

"Two thumbs for you" katanya dengan gerakan mulut.

Ah..bahagianya. Rasanya seperti melayang di udara. Lalu hinggap di taman bunga. Dapat pujian dari orang yang kukagumi, rasanya benar-benar membahagiakan.  

Sejak hari itu, aku menjadi sibuk dengan berbagai kegiatan kampus lainnya. Motivasi awal seh supaya bisa liat Kak Hafizh terus. Tetapi lama kelamaan, aku jadi suka. Suka dengan segala kesibukan ala Mahasiswa ini. Aku banyak belajar hal baru dan punya banyak kenalan Kakak-Kaka Senior selain Kak Hafizh.

Waktu berlalu menjadi sangat cepat. Tanpa terasa aku sudah memasuki semester 4. Sedangkan Kak Hafizh sudah mulai menyusun skripsi. Kami sudah sangat jarang bertemu di kampus. Sibuk dengan urusan masing-masing. Hubungan ku dengan nya juga tak bertambah baik. Masih sama seperti dulu. Aku tetap hanya menatapnya dari jauh. Saat aku tahu ia berjalan di dekatku. Aku akan menghindar atau bersembunyi. Sampai sekarang aku masih tak sanggup untuk bertatap muka langsung jarak dekat. 

Lalu tiba-tiba malam itu, ponsel ku berdering tiga kali. Nama Kak Hafizh muncul di layar. Aku kembali gelagapan. Sebelum kuangkat, aku tarik nafas dulu tiga kali. Supaya gak ketahuan kalo aku grogi banget.

"Yah, Halo Assalamualaikum"

"Walaikumsalam, dengan Mira"

"Ya kak, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ah, gak kok cuma lagi mau nelpon aja?. Sekarang kamu gmn kabarnya?"

"Alhamdulillah kak, baik"

Dan malam itu aku dan Kak Hafizh mengobrol panjang lebar. Tanpa terasa kita menghabiskan waktu satu setengah jam mengobrol lewat telpon. Kak Hafizh berbicara banyak hal. Mulai dari awal mula ia melihatku di kampus dan merasa tak asing dengan wajahku. Kemudian ia menjadi tahu bahwa dulu aku junior nya di SMA. Dari situ obrolan kami menjadi lebih ringan. Seputar guru killer waktu SMA hingga Dosen di kampus yang membosankan. 

Malam itu kucatat sebagai hari pertama aku merasa menjadi teman Kak Hafizh...
Aku merasa bisa menjadi lebih dekat dengannya. Dan gunung es diantara kami sudah mulai mencair. Bahagia sekali melihat bahwa kesempatan itu masih ada. Kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan nya.

Desember 2012 










Ini cuma cerita fiksi
Jadi berhenti  bertanya ini kisahku atau bukan.
Eits tp ini terinspirasi dari curhatan sahabat seh sebenarnya inisialnya @ZrR_889

Berkirim Kabar ke Belahan Dunia yang Lain

"Surat cintaku yang petama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melodi yang indah
kata-kata cinta nya--- Padaku"

Lagu "Surat cintaku yang pertama" dinyanyikan oleh Bunda Vina Panduwinata ini rilis tahun 1987 dan langsung menjadi sangat hits. Mungkin karena dimasa itu, muda-mudi memang gemar berkirim kabar lewat Pak Pos. Rasanya pasti membahagiakan sekaligus mendebarkan. Dimulai dari saat merangkai kata-kata lewat goresan pena. Kemudian suratnya dilipat rapi. Dimasukkan ke amplop yang sudah disemprot parfum. Trus dibawa ke Kantor Pos. Setelah itu berdoa supaya Pak Posnya bisa berubah jadi SuperMan agar suratnya cepat sampe. Kemudian hari demi hari menunggu dengan penuh harap dan deg-deg-an. Pas Pak Posnya datang ke rumah, girangnya bukan main. Ternyata Pak Posnya cuma bawa surat tagihan listrik. Hehehehe ^_^


Saya yang anak kelahiran tahun 90-an. Cuma bisa melihat hal itu dari film film tempo doeloe. Atau mendengar kisah itu dari Om atau Tante yang dulu pacarannya suka pake surat-suratan.  

Kira-kira jaman sekarang masih ada gak yah yang mengirim surat cinta lewat Pak Pos? Mungkin sudah tidak ada lagi. 

Muda-mudi jaman sekarang lebih memilih menggunakan Media Sosial seperti Path, Instagram, atau Facebook. Bukan hanya untuk membagikan perasaannya pada Pujaan Hati tetapi juga mengabarkan pada dunia tentang kegalauannya. Dikit-dikit Update status, dikit-dikit pasang foto mesra bareng pacar. Iri karena jomblo

Walaupun sekarang teknologi canggih. Jalur komunikasi dan Informasi sangat cepat. Tetapi masih ada loh yang bela-belain ke kantor pos jauh-jauh. Beli Perangko, nempelin sediri terus nunggu berbulan-bulan baru dapat balasan suratnya. Yah, masih ada yang seperti itu. Salah satu nya gue sendiri. Tetapi bukan untuk kirim surat cinta. Iya karena gue jomblo
My First Letter for My Penpals
Jadi ceritanya, baru-baru ini seorang teman pasang photo Post Card lucu di IG nya dia. Post Card itu dikirim langsung dari Saudaranya di Belanda. Wuah,,, Entah kenapa aku tiba-tiba ngiler dan ingin juga dapat Post Card lucu kayak gitu. Tetapi gimana yah? aku gak punya saudara di Luar Negeri. Jangankan saudara, punya kenalan yang tinggal di Luar Negeri juga gak ada. Jadi gimana mau dapat kiriman post card kalo gitu???

Eh ternyata ada banyak cara... Gak perlu punya saudara atau kenalan di Luar Negeri. Cukup buka website atau forum pertukaran kartu pos. Silahkan kunjungi www.postcrossing.com atau www.cardtopost.com. Di forum itu, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama denganmu, tukar-tukaran kartu pos. Tetapi kalo cuma dapat kartu pos kayaknya agak kurang. Saya juga mau menulis surat panjang lebar. Nah, kalo kamu juga punya minat seperti ini. Kamu bisa cari penpals atau sahabat pena. 

Cukup daftarkan dirimu di Instagram @helping.snailmailers atau @Penpal_finders. Disitu kamu harus masukkan Nama, Asal Negara, Kesukaan, dan keinginan kamu untuk memiliki teman dari negara lain. Setelah biodata kamu di post di Instagram @helping.snailmailers atau @penpal_finders, orang yang tertarik untuk berkenalan lebih jauh denganmu akan mengirim message langsung (DM) ke akun Instagram kamu. 
Kalo aku sendiri kemarin, tidak memasukkan biodata di Instagram @helping.snailmailers itu, tetapi langsung cari-cari teman disana yang memiliki hobby yang sama dengan ku. Yang suka Anime Jepang dan Love Korean Drama. Dan aku nemu Mbak Jency asal Kanada. Ada Mbak Courtney asal USA dan Mbak Nurul Syazana asal Malaysia. Mereka juga suka Anime Jepang dan suka nonton drama korea gitu. Langsung kukirim Direct Message ke mereka kalau aku mau jadi Penpalnya. Dan mereka langsung menyambut hangat niatku. Tetapi harus aku duluan yang kirim surat ke mereka. Karena saat ini surat yang harus mereka balas lumayan banyak juga. Ok tak masalah buatku. 

Dan mulailah diriku hunting post card lucu dari Instagram. Karena PostCard nya mewakili diri kita dalam memperkenalkan diri dan asal negara, harusnya PostCardnya yang langsung menceritakan Indonesia. Nemu deh akun instagram @Haloposnesia untuk tempat beli post card lucu dan imut. Harganya lumayan terjangkau seh menurutku, sekitaran Rp 4.000-5.500/pcs. Pelayanannya ramah dan pengirimannya lumayan cepat. 
Beli Online di IG @Haloposnesia
Pas PostCardnya udah nyampe di tanganku langsung deh mulai nulis suratnya. Karena sahabat penaku (My Penpals) asalnya dari luar negeri semua. Jadi nulis suratnya pake bahasa inggris. Untuk standar diriku yang Bahasa Inggris nya pas-pas an, menulis surat seperti ini jadi motivasi tersendiri untuk lebih semangat lagi belajar bahasa Inggrisnya. Mulai buka kamus lagi. Mulai baca-baca buku Grammar lagi. Dan mulailah merangkai kata-kata di atas kertas surat warna warni. Rasanya membahagiakan sekali. Menulis surat untuk seseorang yang belum kita kenal. Yang jarak kita dengan nya ratusan hingga ribuan mil. Bercerita tentang diri sendiri dan budaya dari negara masing-masing. Ini jadi langkah awal juga, sebelum diri travelling ke negara-negara mereka. Cukuplah surat dulu yang sampai kesana. Lumayan bisa dapat teman yang bisa membagikan informasi penting. Dan sebaliknya, berkirim surat seperti ini jadi ajang kita ikut mempromosikan budaya dan keindahan Negara Kita tercinta, Indonesia.

Oh yah, ada pengalaman lucu waktu ke kantor pos kemarin. Karena ini kali pertamanya aku mau kirim surat pake perangko. Jadi bingung sendiri, beli perangko nya di loket mana? Dan aku nanya deh ke salah satu mbak2 pegawai kantor posnya. Kira-kira begini percakapannya...

"Maaf kak, saya mau beli perangko"
"Perangko?", si mbak nya pasang wajah bingung
"Perangko atau materai ya?", tanya si mbak nya lagi 
"Perangko mbak. Saya mau kirim surat"
"Oh silahkan ke Loket ujung sebelah sana" 

Ternyata, yang beli perangko di kantor pos belakangan ini sudah sangat jarang. Makanya mbak nya ragu saya mau beli perangko atau materai. Hihihi 
Yok mulai galak kan lagi semangat berkirim surat dengan perangko. 
Seru loh... 

Wednesday, February 15, 2017

CerBung: Seulas Senyum Itu

Sudah tiga malam berturut-turut wajahnya selalu hadir di mimpiku. Pertanda apakah gerangan?
Apakah mungkin sesuatu sedang terjadi padanya? Ah, semoga tidak. 
Toh aku selalu menyisipkan namanya dalam tiap doaku. Agar dia dilindungi dan selalu mendapat berkah dari Ilahi.

Atau mungkin ini efek terlalu rindu?
Em..bisa jadi. Sudah hampir dua tahun ini tak pernah lagi mendengar kabar beritanya. Iya seolah hilang ditelan bumi. Hilang entah kemana.

Aku harap dimana pun ia berada, ia masih dalam Lindungan Yang Maha Rahman.
Oh tidak, rasa ini masih melekat kuat di hatiku. Rasa yang entah bagaimana aku harus melukiskannya. Suka kah? Kagum kah? Atau Cinta? 

Entahlah. Aku pun masih sangat bingung tentang perasaanku padanya. Perasaan yang telah terpendam selama 10 tahun lamanya. Perasaan sepihak, yang mungkin hanya aku yang merasakannya. Dan dia tak pernah tahu.

Maukah kau kuceritakan kisahnya? Kisah tentang Penantian Panjangku. Kisah tentang Cinta sepihakku. Atau kisah tentang cinta dalam diamku.

Hari itu, Januari 2007. 
Saat tanpa sengaja, dia mencuri hatiku. Saat pertama kalinya hatiku bergetar untuk seorang lelaki. Saat itu aku masih berseragam putih abu-abu. Tepatnya masih kelas 1 SMA. Hari-hariku disibukkan dengan tugas sekolah yang menumpuk, mulai dari tugas praktikum hingga tugas Matematika yang tak ada habisnya. Sama seperti hari biasa, waktu itu dengan agak malas aku melangkahkan kaki ke sekolah. Dari kejauhan kuliat seorang nenek tua hendak menyeberang jalan dengan dua kantong besar di tangannya. Sepertinya dia agak kesulitan untuk menyeberang karena lalu lintas pagi itu sangat padat. 

"Hem, Ok Mari mengawali pagi dengan berbuat kebaikan", kataku dalam hati.

Aku mempercepat langkahku mencoba menghampiri Sang Nenek. Masih dalam jarak beberapa meter. Tiba-tiba seorang pria tinggi lebih dahulu menghampiri Sang Nenek. Ia tersenyum lembut lalu menawarkan diri membantu Sang Nenek membawakan barang dan menyeberang jalan. Langkahku lalu terhenti. Aku kalah cepat oleh dia. 
Aku tersenyum kecewa, satu pahala terlewatkan. Tetapi hei, lelaki itu punya senyum manis sekali. Aku dapat merasakan ketulusannya. Senang sekali menyadari masih ada lelaki baik hati di dunia ini. Tiba-tiba aku merasa ada desir halus yang merayapi hatiku.
Lelaki pemilik senyum bersahaja (Bang Pinjem foto ya ^_^)
Source: www.jpnn.com
Sudah seminggu lebih sejak aku melihat lelaki itu. Em, aku sedikit penasaran tentang sosoknya. Setiap pagi saat melalui jalan yang sama, aku berjalan agak lambat atau berpura-pura berhenti untuk mengikat tali sepatu, sapa tau bisa bertemu lelaki pemilik senyum bersahaja itu. Tetapi hasilnya nihil. Menyebalkan...

Aku lalu mencoba melupakan kejadiaan itu. Kembali berkutat dengan rutinitas membosankan sebagai pelajar. Tetapi kemudian takdir mempertemukanku kembali dengannya. Saat jam istirahat, aku yang merasa bosan hanya duduk-duduk santai di kelas. Aku lalu mengarahkan pandangan ke jendela, lalu tiba-tiba sesosok wajah yang kukenal melintas. Hei...dia lelaki pemilik senyum bersahaja itu. Tanpa komando, tubuhku refleks bergerak untuk mengikuti jejaknya. Aku ingin melihatnya dari dekat. Lalu tiba-tiba kulihat ia sedang berjongkok di samping lapangan. Ternyata ia sedang membantu Si Ary, anak Wali Kelasku yang baru saja terjatuh karena tersandung batu. Anak itu menangis menjerit karena lututnya berdarah. 

"Huah,,, lututnya atit",kata Ary sambil sesegukan.

"Tak apa. Cup.. Cup. Anak Jagoan tidak boleh kalah sama rasa sakit. Sini kakak tiup supaya sakitnya hilang", katanya lembut.

Lalu kemudian ia menghapus air mata anak itu, menggendongnya dalam pelukannya dan mengusap-usap punggungnya sambil menenangkannya.

Ah... tidak. Hatiku kembali bergetar melihat pemandangan itu. Sepertinya hatiku sepenuhnya benar-benar tercuri olehnya. Lelaki pemilik Senyum bersahaja itu. Dan kabar gembiranya, ternyata ia satu sekolah denganku. Tetapi kabar buruknya, Ia sudah kelas Tiga. Jadi waktunya di Sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Tetapi tak apa. Masih ada beberapa bulan untuk mengenal lebih dalam sosoknya. 

Dan kau tahu, langkah-langkah kakiku yang malas saat akan berangkat sekolah menjadi lebih ringan dan riang. Saat sampai di sekolah, aku akan segera mencari sosoknya. Mencuri-curi pandang saat upacara pagi, saat makan di kantin, atau saat shalat dhuhur di Mushalla. Oh,yah.. di samping dia baik hati dan penyayang, satu lagi nilai plusnya adalah dia taat beragama. Rasanya dia tak pernah alfa untuk menunaikan shalat dhuhur berjamaah di Mushallah Sekolah. 

Ya ampun, kenapa dia perfect sekali. Oh yah, lelaki pemilik senyum bersahaja itu bernama Fawwaz Hafizh. Ia biasa dipanggil Hafizh. Bahkan namanya pun indah. Tetapi yah, sampai dia lulus dari sekolah kami. Aku tak berani menyapanya. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan. Melihat punggungnya. Dan ikut tersenyum kala ia tersenyum. Walau kutahu senyum itu bukan untukku. Dan akhirnya ia pun lulus dari sekolah kami. 

Dua tahun ku berlalu begitu saja. Tetapi namanya masih melekat kuat di hatiku. Tak beranjak sedikit pun dari situ. Kucoba menghilangkannya dengan bersahabat dengan siapa saja. Mencari sosok lain yang bisa kukagumi. Tetapi tetap saja sosoknya dia tak tertandingi. Aku kemudian melanjutkan kuliahku di Salah satu Perguruan Tinggi di kotaku. Semuanya biasa-biasa saja, sampai saat pengkaderan tingkat Fakultas. Hatiku kembali bergetar untuk yang ketiga kalinya karena aku bertemu kembali dengan Kak Hafizh di kampus ini. Ya Ampun,,, aku gembira sekali bisa melihat senyum itu lagi. Senyum yang diam-diam mencuri hatiku. 

Sama seperti dulu, aku masih tak berani menyapanya duluan. Aku terlalu malu. Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus memperkenalkan diri sebagai adik juniornya dari sekolah yang dulu? Ataukah aku harus memperkenalkan diri sebagai pengagum rahasiannya? Ah itu terlalu memalukan. 

Beberapa saat kembali berlalu, aku kembali sibuk dengan rutinitas ala Mahasiswa. Aku lumayan sibuk, sehingga sosoknya sudah jarang hadir di pikiranku. Lalu saat sedang mengerjakan makalah presentasi di rumah tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tidak dikenali..

"Halo, Assalamualaikum", kataku

"Halo, Walaikumsalam. Ini dengan Hafizh. Senior kamu di Jurusan"

Nafasku tercegat. Sejenak rasanya jantung ku berhenti. Itu suara Kak Hafizh. Orang yang kukagumi dan namanya tak tergantikan. 

"Oh,yah", jawabku se wajar mungkin. Jantungku rasanya masih berdetak tak karuan. Kuharap dia tak mendengar nya dari balik telpon.

"Ini benar nomornya Mira, yang anak kelas A?"

"Iya betul kak"

"Oh Maaf ya Mira mengganggu malam-malam, saya cuma mau menginformasikan kalau besok ada Seminar. Trus kita lagi butuh MC untuk bawakan acaranya. Jadi saya butuh kamu untuk isi posisi MC kalau tak berkeberatan", katamu 

"Tentu saja saya bisa kak" kataku langsung

"Ok Terima Kasih Mira, sampai jumpa besok di Kampus ya"

Huah... mimpi apa aku semalam. Akhirnya bisa mendengar langsung suara Kak Hafizh. Bahagianya. Sangking bahagianya semalaman aku tak bisa tidur karena membayangkan hari esok. 

Hari itu, hari pertama bisa mendengar suara Kak Hafizh langsung. 
15 Maret 2011

***Bersambung.....




#Request an cerita dari Seorang Sahabat @ZrR889
#WritingChallenge










Monday, February 13, 2017

Melogikakan Rasa

Ada sebagian rasa yang selamanya tidak bisa kau mengerti,
maka tidak perlu berbuat bodoh untuk 
mencoba memahaminya.

Ada sebagian rasa yang selamanya tidak bisa kau elak,
maka tidak perlu berlagak jagoan untuk dapat menyingkirkannya.

Ada beberapa rasa yang tidak bisa dipaksa hadir,
maka tidak berguna segala ancaman dan rayuan
untuk membuatnya datang.

Ada rasa yang membuatmu kuat,
ada pula yang justru melemahkan.
Ada yang bisa disembunyikan,
ada yang norak tidak peduli.

Ada rasa yang tidak bisa dibuat main-main
seperti bermain api dan air,
atau mawar dan duri,
atau bermain di dunia fantasi

Banyak yang mengabaikan, 
tapi banyak juga yang menyadari.
Engkau bagaimana?

-Dikutip dari Buku Letters From Turkey-



Rasa itu adalah cinta. Dan cinta yang kuharapkan bukanlah cinta gila seperti kisah cinta Laila dan Majnun atau cinta mati seperti kisah romeo dan juliet. Aku berharap cintaku padamu adalah cinta dalam diam, yang tak perlu diumbar atau dipamerkan. Cukup saling mendoakan saja. Seperti kisah luar biasa dari Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abi Thalib, yang saling mencintai dan saling mendoakan. Yang kemudian disatukan oleh Takdir Sang Pencipta. Sesuatu yang sudah ditakdirkan menyatu tak akan berpisah walaupun kau berusaha tenaga, dan sesuatu yang tidak ditakdirkan menyatu tidak akan bisa bersama walaupun kau memaksakan. Tak akan menodai arti cinta itu hingga rasa itu telah halal dan kelak berbuah pahala. 

Sunday, February 12, 2017

Berhenti Bercanda Berlebihan

Memasuki Minggu ketiga di 1 Minggu 1 Cerita #1M1C "Menulislah walau hanya satu cerita" dan untuk minggu ini temanya lumayan berat about Forgiveness (Seputar Maaf dan Memaafkan). Akhirnya baru nulis di jam-jam terakhir sebelum deadline berakhir.

Sebelumnya udah blogwalking ke blog member-member lain. Dan ternyata semua tulisan teman2sekalian keren-keren. Saya jadi tambah gak pede untuk nulis. Takut hanya tulisanku sendiri yang jelek. Tetapi karena gak tega sama mimin dan momon yang udah nagih-nagih terus. Akhirnya aku bayar sekarang. Berharap ada yang dapat manfaat dari tulisanku ini.

Terkait tentang Maaf dan Memaafkan harusnya tak pernah hilang dari keseharian kita. Karena tanpa sadar atau tidak, sengaja atau tidak kadang karena perkataan atau tindakan kita yang kurang berkenaan. Lalu ternyata ada hati yang terluka karenanya.

Hal ini berlaku juga dalam dunia pertemanan terutama dunia pertemanan para cewek. Kadang cewek-cewek suka bertemanan dekat dengan beberapa orang saja. Hal ini biasa disebut geng. Teman satu geng biasanya selalu bersama. Entah saat belajar di sekolah, makan di kantin, membaca di perpustakaan atau jalan di luar, mereka selalu bersama. Karena selalu bersama, perasaan simpati dan tulus biasanya akan semakin kuat. Tetapi terkadang juga persahabatan seperti ini menimbulkan keegoisan dan rasa posesif.Kadang saat salah satu teman kemudian mulai bergaul dengan teman yang lain di luar geng, teman satu geng nya jadi cemburu dan marah.  Ia lalu menganggap bahwa dia adalah seorang pengkhinat. Menganggap bahwa si Teman ini sudah berubah, dan tak ingin berteman lagi dengan mereka. Padahal Si Teman yang satu ini hanya ingin memperluas jaringan pertemanan saja. Bukan berarti dia ingin memutuskan tali persahabatan dengan satu gengnya. Ini disebut rasa khawatir berlebihan bercampur rasa posesif.

Itu baru persoalan pertama. Persoalan selanjutnya, Biasanya anak-anak cewek yang satu geng itu kalo sudah berkumpul dengan sesama member geng kadang suka membicarakan orang yang disuka atau tidak disukai. Nah disaat-saat seperti itu kadang ada yang bercandanya kelewatan yang kemudian menyakiti hati teman yang lain. Misalnya si Ani bilang "Em, sebenarnya aku sudah lama suka sama kak Dodit loh" terus si Minah bilang "Kak Dodit? Kak Dodit yang cupu, terus bicaranya gagap dan suka ngupil itu. Kok bisa seh kamu sebodoh itu. Mata kamu emang dimana?"

Yah, kata-katanya Wooyeon dari Webtoon Spirit Finger ini benar, bahwa walaupun bercanda kalau orang lain yang mendengarnya terluka, itu bukan candaan lagi namanya. Kadang kita menganggap paling tahu diri teman kita, karena sudah mengenalnya terlalu lama. Sehingga kita merasa bebas berkata apa saja. Tanpa peduli apa yang dia rasa di hatinya. Apakah ia marah? Apakah ia sedih? Apa ia tak suka? Kadang kita terlalu malas memikirkan hal itu. Karena kita menganggap bahwa teman itu akan saling mengerti dan memaklumi. Padahal tidak seperti itu. Baik itu teman atau lawan, semuanya tetap punya hati dan perasaan. Saat kita merasa bahwa kata-kata kita mungkin menyakitinya, maka sudah sewajibnya kita harus meminta maaf atas kata-kata itu.

Lalu apabila mungkin salah satu teman kita tak menyadari bahwa kata-katanya sudah kelewat batas, kita yang tersakiti juga harusnya mengungkapkannya secara baik-baik. Dan mengingatkan teman kita itu bahwa omongongannya sudah berlebihan. Kalau kita hanya diam saja, tak mengatakan apa-apa dan hanya memendam rasa sakit di dalam hati. Hal itu hanya akan jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Persahabatan itu akan hancur berantakan. Jadi lebih baik memilih mengatakan bahwa hatimu sakit mendengar kata-kata itu atau memaafkannya karena dia adalah teman mu

Jadi Pilihlah antara Memberitahu teman kita kesalahannya atau Memaafkan dia langsung untuk mempertahankan keutuhan persahabatan.



Saturday, February 11, 2017

Sahabat, Terima Kasih karena sudah hadir di hidupku

Apa kau pernah merasa sendiri dan sangat kesepian? Aku pernah.
Apa kau pernah merasa diabaikan dan seolah tak terlihat? Aku pernah.
Apa kau pernah merasa heran karena tiba-tiba kau dikelilingi orang yang hanya ingin memanfaatkan mu? Aku pernah.
Merasakan sakit... tentu saja iya. Tetapi itu dulu, sebelum aku mengenal kalian. Sahabat-sahabat terbaik yang membuat ku tak merasa sendirian lagi. Sahabat-sahabat terbaik yang membuat keberadaan ku di dunia menjadi berharga. Sahabat-sahabat terbaik yang dengan kalian aku bisa tertawa lepas dan nyaman menjadi diriku sendiri.

Kalian perlu tahu bahwa setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup kita pasti meninggalkan kesan tersendiri. Menempati ruang tersendiri dalam hati kita. Entah itu meninggalkan kesan membahagiakan atau menyakitkan. Walaupun orang tersebut sempat membuat kita merasa kecewa atau memberi luka, tetapi kita sama sekali tak punya hak untuk menyalahkan nya. Biarlah dosa yang mereka perbuat menjadi masalah mereka dengan Tuhan. Tetapi perkara hati kita yang tersakiti, adalah pilihan kita. Membiarkan hati itu tetap menyimpan dendam dan merasa tersakiti selamanya. Atau membiarkan hati kita melepaskan segala kekecewaan itu, menutup luka nya dan berusaha tersenyum karena sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. 

Sama dengan pengalamanku saat merasa sendiri, diabaikan atau dimanfaatkan orang lain. Aku merasa itu bukan salah mereka. Itu salahku. Salahku karena tak mencoba untuk membuka diri pada orang lain. Salah ku karena tak berusaha untuk membiarkan orang lain kenal dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Salahku karena tak berani mengatakan tidak saat orang lain berusaha memanfaatkan ku. Tetapi dari situ aku belajar untuk lebih membuka diri, belajar untuk tersenyum tulus, dan belajar untuk lebih memahami orang lain. Bukan karena ada apa-apanya. Tetapi karena kesadaran bahwa semua orang memiliki hak untuk dicintai, entah itu diriku atau diri kalian. 

Jika dihitung sejak pertama kali bertemu, maka persahabatan ku dengan kalian sudah terjalin selama 9 tahun. Apa kalian masih ingat saat kita pertama kali bertemu???
Kalau aku sudah tak mengingatnya dengan jelas. Tapi bercanda. Tentu saja aku ingat pertemuan pertama kita.

Yang kuingat sesaat setelah melewati masa putih Abu-Abu, dan mulai mendaftarkan diri di Kampus Tercinta kita. Aku merasa galau dan bimbang yang teramat sangat? (maaf lebay ^_^).  Aku takut tak akan bisa mendapat teman, Aku takut tak bisa mengikuti ritme sebagai seorang mahasiswa, Aku takut kalau aku akan di Drop Out dari kampus karena pelajarannya yang susah, dan aku takut jika di kampus nanti aku akan merasa sendiri lagi.

Tetapi aku menguatkan diri bahwa aku ingin berubah. Berubah menjadi Sailormoon seandainya bisa. Soalnya Sailormoon cantik dan punya banyak teman ^_^. Tetapi ternyata tak bisa, aku hanya bisa menjadi diriku sendiri saja. Menjadi diri sendiri yang lebih berani. Berani untuk menyapa orang lain terlebih dahulu, berani untuk menonjolkan diri walaupun kesannya malu-malu in. Dan berani untuk membuka diri pada orang lain.

Hingga tiba saat nya mendaftarkan diri di kampus. Saat itu aku berangkat sendiri membawa segala kelengkapan berkasku. Jantung ku Deg-Deg an tak karuan, karena ini kali pertamanya aku bepergian naik mobil angkutan umum, seorang diri ke tempat yang belum kukenal seorang pun disana. Sesampai di Kampus, aku pun turun dari mobil. Lalu seorang gadis bertubuh mungil yang sejak tadi duduk di dekat ku juga ikut turun. Kulihat dia juga membawa map yang sama dengan ku.Berarti kami sama-sama calon mahasiswa baru. Dan kuajaklah dia berkenalan. Namanya Hamdana, dan dia juga mengambil jurusan yang sama dengan ku Akuntansi. Wah kebetulan banget. Sekarang aku sudah punya satu teman. Yeay... 
Maafkan ekspresi wajah yang menjengkelkan ku itu 
Dia anak nya baik dan ramah. Walaupun tidak satu kelas dengan ku, tetapi entitas pertemuan ku dengannya lumayan sering. Mulai dari Masa Orientasi Siswa, Pengkaderan, Bakti Sosial, hingga Yudisium kami selalu bersama. Selain itu, dia tipe teman yang setia. Dia selalu setia menunggu ku pulang kuliah agar kami bisa sama-sama menuju rumah. Selain itu dia juga tipe teman yang ringan tangan, rasanya saat aku minta tolong dan mengharapkan sesuatu darinya, dia akan senang hati mengabulkan nya. Maafkan aku ya ham..jika selama ini aku terlalu banyak minta tolong nya ^_^

Beberapa saat setelah masa orientasi berlalu, aku kemudian bertemu kawan lama di Mushala Kampus. Namanya Ayun. Dulu aku satu SMP dengan nya. Rasanya senang sekali bertemu dengan kawan lama. Walaupun aku waktu SMP aku hanya kenal wajah dan namanya saja, soalnya kami tak satu kelas. Tetapi aku mencoba sok akrab karena ia satu kampung dengan ku. Saat berada di kota lain dan bertemu kawan satu kampung, rasanya bertemu dengan saudara yang sudah lama tak berjumpa. Senangnya bukan main. Lalu aku pun mencoba untuk menyapa nya. Dia tersenyum dan menjawab pertanyaan ku seadanya. Pertemuan pertama ku dengan nya setelah sekian lama lumayan kurang asyik, soalnya dia agak canggung dengan ku yang mencoba sok akrab. Hahaha. Yang kutau dia ternyata juga satu fakultas dan jurusan dengan ku. Hanya saja lagi-lagi kami tak satu kelas. Seiring berjalannya waktu, pertemuan yang canggung kami waktu itu sudah terlupakan. Aku dan Ayun mulai akrab. Kami bahkan ikut kursus bahasa Inggris bersama. Saling tunggu menunggu saat selesai kuliah. Dan berangkat kuliah juga bersama. Ayun sangat membantuku saat penyelesaian skripsi ku. Saat uangku mulai habis untuk print dan fotocopy draft skripsi berkali-kali, Ayun lalu menawarkan untuk ngeprint di rumahnya GRATIS. Yeay.. senangnya bukan main. Hahahha. Ayun ini tipe sahabat yang tidak terlalu banyak bicara. Tetapi sekali berbicara, ia hanya akan bicara yang jujur saja. Dia tidak terlalu suka memuji, tetapi lebih sering memberitahu dimana letak kekurangan kita. Omongannya kadang nyelekit. Awalnya aku agak tersinggung dengan beberapa ucapannya, tetapi lama-kelamaan jadi terbiasa. Bersama nya seperti minum obat. Walaupun pahit tetapi dia menyembuhkan. hihihi
Sahabat yang seperti obat
      Sahabatku berikutnya bernama Imma. Pertemuan pertama kami saat aku baru keluar dari Aula Kampus selesai pembukaan Ospek. Aku lalu melihatnya sedang berdiri sendiri di depan jalan. Entah karena apa, aku lalu memberanikan diri menyapanya. Mungkin karena wajahnya yang terlihat kalem. Kupikir dia bukan tipe cewek galak. Dan ternyata benar. Dia lumayan friendly di awal bertemu. Namanya Irmawati panggilan akrab imma. Dia juga jurusan Akuntansi. Yang ternyata sekelas dengan Ayun. Waktu itu dia sedang menunggu ayahnya untuk menjemputnya. Obrolan pertama dengannya lumayan hangat. Dia menjawab dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Kesan pertama dia terlihat lumayan kalem. Ternyata tidak se kalem yang kubayangkan. Dia lumayan berisik. Mengomentari ini dan itu. Terkadang dia seperti adik ku yang berisik. Tetapi terkadang juga dia bisa seperti kakak ku, yang memberikan nasehat bijak. Dia adalah tipe sahabat yang bisa diandalkan. Aku dan dia seperti nya punya banyak kesamaan. Sama-sama bisa menjadi berisik saat tertentu. Dan sama-sama bisa menjadi pendiam saat didekat orang yang dikagumi, ehm...ehm..
Selain itu kami juga sama-sama suka membaca. Tempat tongkrongan favorit kami adalah perpustakaan. Kami juga suka jalan...jalan kaki. Karena kami sama-sama tak bisa mengendarai kendaraan, hahaha. Aku dan Imma sepertinya punya lumayan banyak kenangan, walaupun tidak satu kelas. Tetapi kami selalu menghabiskan waktu bersama dikantin, Mushalla, Pasar, Toko, Perpustakaan, ruang rapat, dan dapur. Iya, kami berdua paling sering ditugaskan jadi seksi konsumsi saat ada kegiatan kampus. Imma yang masak, aku yang nyicipin. Hahahaha
Sahabat yang awalnya tampak kalem
      Sahabatku selanjutnya ada Ivha. Em,,, aku tak ingat kapan pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Ivha. Yang kutau aku tiba-tiba saja akrab dengannya. Melihatnya bertumbuh dari gadis kecil mungil yang sekarang telah menjadi calon ibu. Yang awalnya selalu meminta untuk ditemani menunggu ayahnya datang menjemputnya. Tetapi sekarang telah berubah menjadi gadis wonderwoman yang bawa motor kesana kemari sendiri. Ivha.. kapan kita pertama kali bertemu? aku benar-benar tak ingat. Maafkan T_T Yang kutau rasanya hampir semua foto yang selama kuliah yang tersave di laptop ku, disitu juga ada wajahmu. Hahahaha. Aku dan Ivha menjadi lumayan akrab saat kami berdua meneliti satu perusahaan yang sama saat penyusunan skripsi. Ivha selalu berbaik hati menjemputku dengan jagoan merah nya menuju Perusahaan tempat penelitian kami. Selain itu dosen pembimbing kami juga sama. Jadilah saat-saat terakhir perjuangan kami sebagai mahasiswa menyusun skripsi menjadi kenangan berkesanku dengannya. Dia yang berbaik hati memberi tumpangan kesana kemari. Benar-benar membantuku menghemat ongkos transport. Dan kupikir moment aku merepotkan Ivha cuma sampai disitu. Ternyata kisahku yang merepotkan Ivha, menyuruh dia kesana dan kemari masih berlanjut hingga bertahun-tahun setelah kami lulus kuliah. 
     Jadi setelah lulus kuliah, dan kami semua disibukkan dengan urusan cari pekerjaan kesana kemari. Entah karena kami memang ditakdirkan berjodoh, hahahaha. Ivha dan aku lalu diterima bekerja di kota yang sama, lumayan jauh dari kampung halaman kami. Jadi kami sama-sama berstatus sebagai anak rantau. Walaupun beda perusahaan, tetapi kami memutuskan untuk tinggal bersama. Ini pertama kali nya aku dan Ivha hidup sebagai anak kost. Aku yang lebih tua dari Ivha lebih sering merepotkan Ivha dengan permintaan ini dan itu. Dan Ivha yang lebih kecil dariku selalu mengalah dan bersikap baik pada kakak yang tidak tahu diri ini. Hahaha. Aku kadang merepotkan Ivha dengan menyuruh dia mengantarku kesana kemari. Meminta dia membelikan makanan ini dan itu. Meminjam barang Ivha yang satu dan lainnya. Serta tak lupa meminta oleh-oleh saat Ivha balik ke kampung halamannya. Ada nya Ivha disisiku saat berada merantau di kampung orang, membuatku tak merasa takut atau khawatir. Ada Ivha membuat semuanya jadi lebih mudah buatku karena ada Ivha yang selalu bisa membantuku kapan saja. "Maafkan aku Ivha yang terlalu sering merepotkan. Aku bersyukur dan berterima Kasih punya kamu selama ini. Dan sekarang aku berdoa semoga kamu dan keluarga kecilmu serta Calon ponakan ku sehat selalu,dilimpahi berkah dan kasih sayang dari Ilahi. Love You Always ^_^
Sahabat yang sudah seperti saudara sendiri
      Setelah Ivha, aku punya sahabat bernama Ulfa. Mbak Ulfa yang selalu nampak ceria. Sepertinya aku tak pernah menemukan wajah sedih pada dirinya. Atau mungkin aku yang kurang sensitif, maafkan kalo gitu. Saat ada Ulfa, suasana pasti lebih ceria dan hangat. Ulfa selalu membawa kegembiraan dengan canda nya, walaupun kadang garing ato gak update, hihihi. Em, Ulfa jarang curhat ke aku seh. Jadi gak tahu banyak tentang pribadi Ulfa. Mungkin Jeng Ulfa ini gak terlalu nyaman dengan diriku yang alay dan kadang menjengkelkan ini. Di pikiran ku Ulfa ya selalu ceria. Tolong tetap ceria, dan jangan pernah berubah seperti lagunya Marcell ^_^. 
Ulfa ku yang selalu membawa aura ceria ^_^
      Sahabat berikut nya ada Mbak Susi dan Yammi. Dari foto yang dibawah Susi yang memakai sweater hitam jilbab putih. Jeng Susi juga jago masak. Di Awal-awal kuliah, kost-an nya dia selalu jadi tempat nongkrong kite.. sebenarnya selain jadi tempat istirahat sambil nunggu dosen, kita juga sering nebeng makan. Soalnya masakan nya Jeng Susy ini ueenak... Sama seperti Imma, Jeng Susy ini juga sering jadi bagian seksi konsumsi bersama ku saat ada acara kampus. hihihi. Saat ada acara kampus sampai malam hari, kost nya Jeng Susi ini jadi pelarian untuk aku nebeng tidur atau mandi. Aku kadang sering lupa, mengira kalau itu kost an ku sendiri, padahal gak pernah ikut bayar uang kost. Terima Kasih Jeng Susy, karena sudah berbaik hati untuk menerima aku yang tak tahu diri ini menginap di kost an mu. Maaf karena sering mengganggu waktu istirahat dan waktu privasi mu. Sehat terus disana bersama Suamimu. Semoga lain kesempatan bisa bertemu lagi ^_^
     Terus Kalo Jeng Yammi, dari foto dibawah yang duduk di belakang jilbab orange. Dia yang memakai Jilbab Pink. Jeng Ammy ini baru saja melangsungkan pernikahan nya beberapa hari yang lalu. Dan karena kesibukan pekerjaan, aku tak bisa hadir. Maafkan ya Ammy, aku tetap kirim doa terbaik untuk mu dan pasanganmu. Semoga langgeng terus sampai kakek nenek. Cepat dikaruniai momongan lucu. Dan menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah. Jeng Ammy satu kampung dengan Mbak Susy. Sama-sama orang Pinrang. Jeng Ammy ini juga sangat baik padaku. Saat mengikuti Pesantren Mahasiswa, aku biasa menginap di kost nya. Waktu kuliah aku tidak dapat ijin nge kost. Tetapi kalo nginap satu dua malam di kost teman masih dapat ijin. Jadilah aku seperti benalu, yang berpindah dari kost-an Susi, kost-an Yammi, dan kost-an Vera. Smuanya berbaik hati menerimaku. Ah, aku berdoa semoga Tuhan membalas dengan pahala yang berlipat ganda. 
Ini foto diambil thn 2008 (jadul cuy)
      Selanjutnya mau cerita tentang Sahabatku, yang namanya Mbak Vera. Diantara semuanya doi ini yang paling kalem. Yang selama 9 tahun pertemanan belum pernah melihat sekalipun ekspresi wajah marahnya. Saat dijahili, di becanda in, di usili, dia tetap tersenyum manis. Sangking manis nya, minum teh liat muka dia yang tersenyum, teh nya langsung manis. Soalnya teh nya tadi sudah dikasih gula, hahaha. Oke abaikan. Kami juga satu kampung, paling suka kalau sama dia terus pake bahasa daerah kami, bugis. Terus kalau nginap di kostnya, kita akan dapat pelayanan ekstra. Kamar bagus, Makanan enak, film-film seru, dan ada banyak buku. Hihihi, maafkan aku Vera yang terlalu matre. Trus apa lagi ya? Em, Mbak Vera ini baik hati, tidak sombong, sabar, dll. Kejelekannya apa ya? Em, dia agak tertutup orangnya. Susah sekali menebak apa yang ada dalam hati atau pikirannya. Dulu lagu favoritnya manusia bodoh dari Ada Band. Saat mendengar lagu itu dia akan memutarnya berulang-ulang. Entah apa cerita di balik lagu itu? Dia juga gak pernah cerita. Tetapi mungkin sekarang lagu favoritnya sudah berubah.. Mbak Vera ini punya kembaran, yang sama cantiknya. Namanya Sukma. Kadar cantik dan baiknya sama. Sukma Cantik, Mbak Vera juga cantik. Mbak Vera baik, Sukma juga gak kalah baik. Tetapi karakter mereka berdua sedikit ada perbedaan. Mbak Vera memiliki karakter Tenagn dan Kalem. Sedangkan Sukma lebih energik dan Ceria. Kedua-nya jadi kesatuan yang pas.
Sebenarnya mereka berdua bukan kembaran seh, tetapi saudaraan. Sukma adiknya Mbak Vera. Tetapi awal kuliah dulu, karena mereka selalu bersama, kupikir mereka benar-benar kembar ^_^
Vera saat berkunjung kermh ku ^_^
Mbak Sukma Cantipppp 
     Selanjutnya ada Mhila. Gadis yang lebih muda dari ku, yang statusnya baru saja berubah menjadi seorang Ibu. Dan sedihnya sampe hari ini belum bisa jenguk-in dedek bayinya. Semoga besok-besok diberi kesempatan ketemu Nak Athaya. Bu Mhila ini, cie ibu..hahaha kok rasanya Mhila jadi tua banget ya ^_^. Ok, Milha aja.. Milha juga menjadi teman seperjuangan di kampus, mulai dari jadi peserta Pengkaderan Organisasi, Peserta Pengkaderan Fakultas, sampe acara begadang ria pas jadi Panitia DAD. Begadang sambil duduk-duduk di tengah lapangan pas tengah malam sambil ngitungin bintang. Waktu di Kampus dulu, Mhila ini selalu sepaket sama Vera, Sukma, dan Irha. Mereka empat serangkai tak terpisahkan. Kadang aku juga ikut nyelip diantara mereka. Tetapi cuma kadang-kadang aja seh. Walaupun sebenarnya agak iri dengan persahabatan mereka yang kayak perangko dan amplop. Tetapi sikap iri dilarang sama agama, jadi aku gak boleh iri. Bisa kenal mereka juga anugerah terindah kok. Bersama Mhila dan Vera, kita biasa melihat Matahari terbenam di kuburan Cina, atau Menikmati sore dengan duduk-duduk cantik di Lapan. Ah, kenangan itu menyenangkan sekali. Sayang tidak bisa diputar ulang.
Aku saat berkunjung ke rmh Milha

Lalu yang paling terakhir, ada Jeng Irha. Sahabatku yang satu ini juga beda kelas denganku. Tetapi kemudian dia menikah dengan teman satu kelas ku, Fandy. Waktu jaman kuliah dulu, mereka dijuluki Best Couple. Dan kami merasa sangat bahagia karena mereka kini jadi keluarga kecil yang bahagia dengan dua putri yang super cantik dan nge-gemesin. Sudah lama sekali tak bertemu Irha. Pertama kali akrab, karena kebaikan hatinya karena mengijinkanku tinggal di rumahnya pas Ospek dan kita peserta Ospek harus cari Mesjid Muhammadiyah Untuk Shalat Subuh Berjamaah. Nah, Irha ini yang jadi malaikat baik hati, mengijinkanku menginap di rumahnya dan menjadi Guide untuk mencari mesjid itu. Kenangan itu menjadi sangat berkesan bagiku. Aku seseorang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu diperlakukan nya seperti Keluarga.

Ah, bahagia sekali bisa bertemu orang-orang baik seperti Irha ini. Kini Irha telah menjadi ibu, tetapi cantiknya Irha tak pudar ya, malah tambah kinclong aja neh. Setelah lulus kuliah, kami sudah tak pernah bertemu lagi, semoga di lain kesempatan bisa reunian dan bertemu dengan gadis-gadis cantikmu itu. 

Irha dan dua gadis cantiknya
Sahabat-sahabat yang kuceritakan diatas ini, semuanya beda kelas denganku. Aku Kelas B, sedang mereka kelas A dan C. Tetapi kami satu Angkatan, Fakultas dan Jurusan. Memiliki sahabat yang tidak satu kelas dengan kita, banyak sekali manfaatnya. Seperti aku dulu, yang semasa kuliah, sering minta jawaban ujian pada mereka. Hahaha curang banget ya ^_^ kadang aku juga gak ikut copy modul kuliah, cukup pinjam modul kuliah mereka. Trus itu juga berlaku untuk buku catatan kuliah atau buku Tugas, lebih seringnya aku pinjem punya mereka. Pokok nya mereka benar-benar sangat membantu kelancaran study ku, hehehe. Salam sayang sllu dari ku Kawan.

Aku saat terjepit diantara mereka hahahaha
empat serangkai yang cantip cantip

Satu hari sblm walimahanx Milha


Ini juga jadul banget.. gambarnya aja pecah ^_^

Mari berteman sampe akhir ^_^
(Maaf kawan-kawan sekalian, aku tidak menyamarkan nama kalian. Hahahaha. Karena blog ku ini adalah tempatku mengabadikan kenangan. Kelak ketika aku sudah tak ada di dunia. Karena memang kita tak akan selamanya berada disini. Kalian bisa membuka kembali blog ini, dan membaca ulang kisah kita... Kuucapkan terima kasih yang terdalam untuk kehadiran kalian yang membuat hidup ku menjadi lebih indah. Semoga kita bisa tetap berteman di dunia, dan berkumpul kembali bersama di Surga ^_^)