Rabu, 15 Februari 2017

CerBung: Seulas Senyum Itu

Sudah tiga malam berturut-turut wajahnya selalu hadir di mimpiku. Pertanda apakah gerangan?
Apakah mungkin sesuatu sedang terjadi padanya? Ah, semoga tidak. 
Toh aku selalu menyisipkan namanya dalam tiap doaku. Agar dia dilindungi dan selalu mendapat berkah dari Ilahi.

Atau mungkin ini efek terlalu rindu?
Em..bisa jadi. Sudah hampir dua tahun ini tak pernah lagi mendengar kabar beritanya. Iya seolah hilang ditelan bumi. Hilang entah kemana.

Aku harap dimana pun ia berada, ia masih dalam Lindungan Yang Maha Rahman.
Oh tidak, rasa ini masih melekat kuat di hatiku. Rasa yang entah bagaimana aku harus melukiskannya. Suka kah? Kagum kah? Atau Cinta? 

Entahlah. Aku pun masih sangat bingung tentang perasaanku padanya. Perasaan yang telah terpendam selama 10 tahun lamanya. Perasaan sepihak, yang mungkin hanya aku yang merasakannya. Dan dia tak pernah tahu.

Maukah kau kuceritakan kisahnya? Kisah tentang Penantian Panjangku. Kisah tentang Cinta sepihakku. Atau kisah tentang cinta dalam diamku.

Hari itu, Januari 2007. 
Saat tanpa sengaja, dia mencuri hatiku. Saat pertama kalinya hatiku bergetar untuk seorang lelaki. Saat itu aku masih berseragam putih abu-abu. Tepatnya masih kelas 1 SMA. Hari-hariku disibukkan dengan tugas sekolah yang menumpuk, mulai dari tugas praktikum hingga tugas Matematika yang tak ada habisnya. Sama seperti hari biasa, waktu itu dengan agak malas aku melangkahkan kaki ke sekolah. Dari kejauhan kuliat seorang nenek tua hendak menyeberang jalan dengan dua kantong besar di tangannya. Sepertinya dia agak kesulitan untuk menyeberang karena lalu lintas pagi itu sangat padat. 

"Hem, Ok Mari mengawali pagi dengan berbuat kebaikan", kataku dalam hati.

Aku mempercepat langkahku mencoba menghampiri Sang Nenek. Masih dalam jarak beberapa meter. Tiba-tiba seorang pria tinggi lebih dahulu menghampiri Sang Nenek. Ia tersenyum lembut lalu menawarkan diri membantu Sang Nenek membawakan barang dan menyeberang jalan. Langkahku lalu terhenti. Aku kalah cepat oleh dia. 
Aku tersenyum kecewa, satu pahala terlewatkan. Tetapi hei, lelaki itu punya senyum manis sekali. Aku dapat merasakan ketulusannya. Senang sekali menyadari masih ada lelaki baik hati di dunia ini. Tiba-tiba aku merasa ada desir halus yang merayapi hatiku.
Lelaki pemilik senyum bersahaja (Bang Pinjem foto ya ^_^)
Source: www.jpnn.com
Sudah seminggu lebih sejak aku melihat lelaki itu. Em, aku sedikit penasaran tentang sosoknya. Setiap pagi saat melalui jalan yang sama, aku berjalan agak lambat atau berpura-pura berhenti untuk mengikat tali sepatu, sapa tau bisa bertemu lelaki pemilik senyum bersahaja itu. Tetapi hasilnya nihil. Menyebalkan...

Aku lalu mencoba melupakan kejadiaan itu. Kembali berkutat dengan rutinitas membosankan sebagai pelajar. Tetapi kemudian takdir mempertemukanku kembali dengannya. Saat jam istirahat, aku yang merasa bosan hanya duduk-duduk santai di kelas. Aku lalu mengarahkan pandangan ke jendela, lalu tiba-tiba sesosok wajah yang kukenal melintas. Hei...dia lelaki pemilik senyum bersahaja itu. Tanpa komando, tubuhku refleks bergerak untuk mengikuti jejaknya. Aku ingin melihatnya dari dekat. Lalu tiba-tiba kulihat ia sedang berjongkok di samping lapangan. Ternyata ia sedang membantu Si Ary, anak Wali Kelasku yang baru saja terjatuh karena tersandung batu. Anak itu menangis menjerit karena lututnya berdarah. 

"Huah,,, lututnya atit",kata Ary sambil sesegukan.

"Tak apa. Cup.. Cup. Anak Jagoan tidak boleh kalah sama rasa sakit. Sini kakak tiup supaya sakitnya hilang", katanya lembut.

Lalu kemudian ia menghapus air mata anak itu, menggendongnya dalam pelukannya dan mengusap-usap punggungnya sambil menenangkannya.

Ah... tidak. Hatiku kembali bergetar melihat pemandangan itu. Sepertinya hatiku sepenuhnya benar-benar tercuri olehnya. Lelaki pemilik Senyum bersahaja itu. Dan kabar gembiranya, ternyata ia satu sekolah denganku. Tetapi kabar buruknya, Ia sudah kelas Tiga. Jadi waktunya di Sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Tetapi tak apa. Masih ada beberapa bulan untuk mengenal lebih dalam sosoknya. 

Dan kau tahu, langkah-langkah kakiku yang malas saat akan berangkat sekolah menjadi lebih ringan dan riang. Saat sampai di sekolah, aku akan segera mencari sosoknya. Mencuri-curi pandang saat upacara pagi, saat makan di kantin, atau saat shalat dhuhur di Mushalla. Oh,yah.. di samping dia baik hati dan penyayang, satu lagi nilai plusnya adalah dia taat beragama. Rasanya dia tak pernah alfa untuk menunaikan shalat dhuhur berjamaah di Mushallah Sekolah. 

Ya ampun, kenapa dia perfect sekali. Oh yah, lelaki pemilik senyum bersahaja itu bernama Fawwaz Hafizh. Ia biasa dipanggil Hafizh. Bahkan namanya pun indah. Tetapi yah, sampai dia lulus dari sekolah kami. Aku tak berani menyapanya. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan. Melihat punggungnya. Dan ikut tersenyum kala ia tersenyum. Walau kutahu senyum itu bukan untukku. Dan akhirnya ia pun lulus dari sekolah kami. 

Dua tahun ku berlalu begitu saja. Tetapi namanya masih melekat kuat di hatiku. Tak beranjak sedikit pun dari situ. Kucoba menghilangkannya dengan bersahabat dengan siapa saja. Mencari sosok lain yang bisa kukagumi. Tetapi tetap saja sosoknya dia tak tertandingi. Aku kemudian melanjutkan kuliahku di Salah satu Perguruan Tinggi di kotaku. Semuanya biasa-biasa saja, sampai saat pengkaderan tingkat Fakultas. Hatiku kembali bergetar untuk yang ketiga kalinya karena aku bertemu kembali dengan Kak Hafizh di kampus ini. Ya Ampun,,, aku gembira sekali bisa melihat senyum itu lagi. Senyum yang diam-diam mencuri hatiku. 

Sama seperti dulu, aku masih tak berani menyapanya duluan. Aku terlalu malu. Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus memperkenalkan diri sebagai adik juniornya dari sekolah yang dulu? Ataukah aku harus memperkenalkan diri sebagai pengagum rahasiannya? Ah itu terlalu memalukan. 

Beberapa saat kembali berlalu, aku kembali sibuk dengan rutinitas ala Mahasiswa. Aku lumayan sibuk, sehingga sosoknya sudah jarang hadir di pikiranku. Lalu saat sedang mengerjakan makalah presentasi di rumah tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tidak dikenali..

"Halo, Assalamualaikum", kataku

"Halo, Walaikumsalam. Ini dengan Hafizh. Senior kamu di Jurusan"

Nafasku tercegat. Sejenak rasanya jantung ku berhenti. Itu suara Kak Hafizh. Orang yang kukagumi dan namanya tak tergantikan. 

"Oh,yah", jawabku se wajar mungkin. Jantungku rasanya masih berdetak tak karuan. Kuharap dia tak mendengar nya dari balik telpon.

"Ini benar nomornya Mira, yang anak kelas A?"

"Iya betul kak"

"Oh Maaf ya Mira mengganggu malam-malam, saya cuma mau menginformasikan kalau besok ada Seminar. Trus kita lagi butuh MC untuk bawakan acaranya. Jadi saya butuh kamu untuk isi posisi MC kalau tak berkeberatan", katamu 

"Tentu saja saya bisa kak" kataku langsung

"Ok Terima Kasih Mira, sampai jumpa besok di Kampus ya"

Huah... mimpi apa aku semalam. Akhirnya bisa mendengar langsung suara Kak Hafizh. Bahagianya. Sangking bahagianya semalaman aku tak bisa tidur karena membayangkan hari esok. 

Hari itu, hari pertama bisa mendengar suara Kak Hafizh langsung. 
15 Maret 2011

***Bersambung.....




#Request an cerita dari Seorang Sahabat @ZrR889
#WritingChallenge










11 komentar:

  1. Hahhaha..ceritanya so sweet sekli..penasaran k sedsink mau liat bagaimn tampangnya itu hafizh knp na mira bisa kagum sama dia????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hem, mungkin ndk jauh-jauh dari wajah nya Bang Fedi Nuril
      Berkulit coklat, tapi pas senyum... manis sekali ^_^
      Makasih sudah berkenan mampir kesini

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih Mbak Ribka Larasati sdh berkenan mampir...
      Tulisannya masih bersambung,, jd ditunggu kelanjutannya ya ^_^
      Salam kenal

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih sdh berkenan membaca... ^_^
      Em, ini bukan kisahku. Ini terinspirasi dari kisah penantian seorang sahabat ku nmx @ZrR889. Sapa tau minat kisah ta kutulis juga disni?? Sy bersedia tulis, hihihi

      Hapus
  4. Balasan
    1. Siap.. nanti kalo yang ini sudah tamat..
      Kisahmu jg akan kutulis..

      Hapus
  5. Masya Allah sampe terbawa emosi bacanya, hehee..

    Bagus mba ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Dwi.. aduh pujiannya bikin sy klepek2.. ^_^
      Sy masih perlu banyak belajar mbak,,, tulisannya masih terasa hampa, sama kayak hati saya,,heheheh
      Tp makasih udah mampir

      Hapus