Thursday, February 23, 2017

CerBung: Seulas Senyum itu (Part Ending)

Sejak hari itu, aku dan Kak Hafizh jadi lebih dekat. Tetapi bukan secara fisik. Kami bahkan tak pernah bertatap muka langsung. Kak Hafizh sudah menyelesaikan studinya di kampus. Jadi kami hanya berkomunikasi lewat sms, kirim-kirim chat lewat facebook dan telpon-telponan. Awalnya ini bikin deg-deg an, dipertengahan bikin hati berbunga-bunga, pas lama kelamaan entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Fokus ku mulai terganggu. Tiap hari waktuku habis hanya untuk menunggu telpon dari Kak Hafizh. Setiap hal yang kulakukan, wajah Kak Hafizh selalu terbayang. Kalau mau diceritakan yang kurasakan jadi mirip-mirip sama lagu nya Duo Ratu. 

"Aku mau makan kuingat kamu
Aku mau tidur juga ingat kamu
Aku sedang sedih kuingat kamu
Oh, cinta mengapa semua serba kamu"

Karena pikiranku sepertinya dipenuhi wajah Kak Hafidz. Akibatnya ibadah, belajar, dan fokusku dalam mempersiapkan ujian final jadi agak terganggu. Aku belum terlalu sadar hingga pada suatu ketika saat mengikuti Kajian Muslimah Rutin, aku merasa seakan-akan ditampar halus. Tuhanku yang Maha Pengasih mengingatkan diriku lewat ceramah Udztasah Nita. Beliau membacakan Q.S An-Nur:30

"Katakanlah kepada Laki-Laki yang beriman, Hendaklah menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat"

Lalu dipertegas dengan HR.Bukhari No.6243

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” 

Dari kajian malam itu aku jadi tersadar bahwa segala yang menyerang pikiran dan hatiku saat ini,sehingga menjadi kacau adalah karena aku tak mampu menjaga pandanganku. Aku telah memandang sesuatu yang bukan hakku. Karena memandang, hatiku jadi terpaut. Sehingga timbul hasrat dalam hati untuk tak hanya memandang saja tetapi juga memiliki. Na Udzubillah Min Dzalik. Aku merasa sangat menyesal. Aku ingin bertobat dan mengakhiri hal ini.Dan sejak saat itu, aku memilih untuk memutuskan komunikasiku dengan Kak Hafizh. Kuhapus pertemanan Facebookku dengannya lalu kukirimkan pesan singkat via sms.

"Maaf kak sebelumnya, sepertinya ini akan jadi komunikasi terakhir kita untuk saat ini. Karena aku sementara fokus untuk menghadapi Ujian Final. Dan beberapa pekan kedepan aku juga akan berangkat untuk KKN. Jadi mohon maaf sebelumnya jika besok-besok aku tak menanggapi telpon atau sms Kak Hafizh. Terima Kasih. Wassalam"

Aku menulis pesan itu setelah berpikir keras untuk menemukan alasan yang tepat. Kuharap Kak Hafizh tak tersinggung dengan kata-kataku dan bisa memahaminya. Aku ingin hijrah dari seseorang yang dulu pernah lalai menjadi lebih taat pada perintah Tuhanku. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan lebih penting aku ingin menjaga hatiku. Menjaga hingga tiba saatnya, hatiku bisa benar-benar mencintai seseorang yang sudah halal untuk ku.

Berhari-hari aku menunggu tetapi balasan sms dari Kak Hafidz tak kunjung datang. Karena hal itu aku menjadi sedikit sedih. Aku berharap Kak Hafidz bisa memahami diriku. Aku tak ingin meninggalkan kesan yang buruk di matanya. Karena di hati kecilku, aku masih terus berdoa agar kelak dia yang menjadi imamku. Untuk saat ini, tak berkomunikasi adalah jalan terbaik untuk kami berdua. Aku percaya jika nantinya kami berjodoh, Tuhan akan menyatukan kami kembali lewat cara-cara yang indah. Tetapi jika seandainya kami tak berjodoh, tak ada yang perlu disesali.

Pertemuanku dengannya sungguh sangat indah. Melihatnya melakukan kebaikan, menjadi motivasi juga buatku untuk melakukan kebaikan setiap ada kesempatan. Dimana saja, Kapan saja, dan kepada siapa saja. Sosok Kak Hafidz bagiku seperti hujan. Dan Aku juga ingin seperti hujan. Hujan yang tak pilih-pilih kasih dalam menurukan titik-titik airnya. Hujan yang selalu setia mengirimkan hawa sejuk dan menyirami tanah yang kering kerontang. Hujan tak pernah berharap imbalan apa-apa. Entah iya dipuji atau dicaci maki, iya tak peduli dan tetap turun dengan syahdu.

Maret 2014, kucatat sebagai perpisahanku dengan Kak Hafizh.

Tiga tahun telah berlalu sudah. 

Dan malam ini adalah malam ketiga aku selalu memimpikan dirinya. Aku selalu berharap dia baikb-baik saja dimanapun ia berada saat ini. Dan seperti yang telah kuceritakan ini adalah kisah penantianku selama 10 tahun lamanya. Menyukainya dalam diam, memilih menjauh darinya untuk mengharap Ridho Allah, tetapi tak lupa terus mendoakannya. Karena tidak ada yang lebih indah dibandingkan terus menyebut namanya dalam doa-doa yang terus dipanjatkan dalam senyap malam. Yah, separuh hatiku telah ikhlas, tetapi separuh hatiku yang lain masih mengharapkan dirinya. 

Semuanya berjalan baik-baik saja kecuali pertanyaan kapan nikah? yang terus didengungkan oleh orang-orang sekitarku. Malam ini selepas ngantor, aku berencana untuk jalan-jalan sejenak ke Pasar Malam yang letaknya tak jauh dari Bibir Pantai. Saat menyenangkan berjalan-jalan sendiri seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang terus menggangu pikiranku dikalahkan oleh suara riuh orang-orang yang membeli dan menjual barang-barang. Suara Debur ombak juga ikut menjadi relaksasi bagi hatiku yang serasa kosong ini. Tiba-tiba dari kejauhan kulihat sosok yang kukenal. Dia mengenakan Kemeja Putih yang ujung lengannya digulung. Celana kain hitam polos dan tas ransel biru dongker. Aku merasa tak asing dengan sosoknya. Aku mencoba bergerak mendekati dia yang sedang sibuk melihat-lihat jam tangan. Dan beberapa meter dari sosok itu, nafasku tercegat di kerongkongan. Kakiku mendadak berhenti di tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Tiba-tiba tubuhku membatu ditempat. Itu benar dia. Kak Hafidz. Seseorang yang kucintai dalam diam selama sepuluh tahun lamanya. Sejenak aku merasa  bahagia karena ternyata dia baik-baik saja. Dia masih sama seperti dulu. Berpenampilan sederhana namun tetap menawan. Lalu entah karena apa, ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Pandangan kami lalu bertabrakan. Aku lalu menundukkan pandangan dan segera berbalik badan dan bergerak menjauh.

"MIra.. hai Mira kan?" tiba-tiba saja ia sudah ada di hadapanku dan menghalangi jalanku.

Aku yang tak tahu harus berbuat apa-apa lalu mendongakkan kepalaku dan melihat wajahnya. Aku tersenyum sebisaku.

"Iya, saya MIra kak. Kak Hafidz apa kabar?" jawabku agak terbata-bata

"Astaga, ini benar kamu Mir. Wuah, kupikir tadi aku salah orang. Alhamdulillah aku baik. Kamu gimana kabarnya? kamu jalan sendiri? Suamimu mana? Eh kamu sudah menikah atau belum?" katanya sambil tersenyum

Senyum itu juga masih tetap sama. Senyum bersahaja yang meluluhkan hatiku.

"Iya ini saya kak. Alhamdulillah saya juga baik. Saya lagi jalan sendiri saja. Dan saya belum punya suami kak. Saya belum ketemu jodoh",kataku sambil menunduk. Ditanya seperti itu wajahku langsung merah membara.

"Oh Ok, kalau begitu saya minta Pin BB kamu. Supaya kita bisa komunikasi lagi. Beberapa tahun lalu, hapeku kecebur di air. Jadi semua kontak dan pesan darimu terhapus. Aku jadi tak bisa menghubungimu sejak hari itu"

"What??? hapenya Kak Hafizh rusak jadi tak bisa menghubungiku. Itu berarti ia tak menghubungiku bukan karena sms kejamku yang tiba-tiba minta jangan diganggu. Huft syukurlah kalo begitu" gumamku dalam hati

"Ok ini Pin BB ku" kataku sambil menyodorkan smartphone ku. 

"Kalau begitu saya permisi duluan kak, saya barusan dapat telpon dari orang rumah, disuruh cepat pulang." kataku beralasan ala anak SMP

"Ok, kalo begitu titip salam buat ayah dan ibumu ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi"

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Kak Hafidz, aku lalu menerima panggilan telepon.

"Assalamualaikum MIr. Ini aku Hafidz. Ahad ini ayah dan ibumu ada di rumah?"

"Iya kak, ayah dan ibuku ada di rumah kok. Kita tak punya agenda khusus weekend nanti"

"Oh, kalau begitu pas. Kalau kamu mengijinkan, ahad ini aku akan datang bersama orang tuaku untuk mengkhitbah dirimu. Itupun kalau kau mengijinkan dan belum punya calon". katanya dari balik telepon

Hatiku gemetar mendengarnya. Masya Allah inikah jawaban dari doa-doaku selama ini. 
Hati yang ditakdirkan bersatu, akan tetap bersatu jua walaupun terpisah sekian lama. 
Aku mengangguk dan tersenyum simpul. 

"Aku belum punya calon kak. Silahkan datang kapan saja. Insya Allah orang tuaku akan senang hati menerima Kak Hafidz dan keluarga"

Dua bulan setelah Kak Hafidz resmi mengkhitbah diriku. Alhamdulillah, berkat ridho dari Ilahi. Semuanya berjalan dengan sangat lancar hingga Ijab Qabul telah terucap. 

Beberapa hari setelah kami resmi menjadi suami istri, aku kemudian bertanya pada Kak Hafidz
"Kak, dulu waktu kita baru ketemu setelah  sekian lama. Apa yang membuat Kak Hafidz yakin untuk memilihku? Bukan gadis lain, yang lebih cantik, lebih cerdas dan lebih sholehah?"

"Aduh istriku sayang, sebenarnya aku malu mengatakan ini" kata Kak Hafidz tertunduk malu

"Ayolah cerita, aku sangat ingin tahu" kataku penasaran

"okey kalo gitu kamu duduk manis dan dengarkan ceritaku. Sebelum ceritanya selesai, jangan menyela. Okay?"

"okey" kataku bersemangat

"Sebenarnya aku telah menyukaimu dari dahulu kala. Sejak aku masih berseragam putih abu-abu dan kamu masih berseragam putih biru. Waktu itu aku pertama kali melihatmu saat hujan turun sangat deras. Aku melihatmu berlari-lari riang dengan payung di tanganmu. Tiba-tiba kau berhenti di dekat tempat sampah. Aku melihatmu berjongkok di sana agak lama, lalu tiba-tiba kau berlari meninggalkan payungmu di dekat tempat sampah itu. Waktu itu kupikir kau anak kecil nakal yang sedang ingin main hujan-hujanan ke sekolah. Tetapi saat aku mendekati tempat sampah itu. Aku terharu ketika melihat di bawah payung yang kau tinggalkan ada tiga kucing kecil lucu yang sedang kedinginan. Saat itu kupikir hatiku telah dicuri olehmu. Aku sangat senang ketika melihat ternyata kita satu sekolah saat SMA. Kau tak tahu bahwa aku sering curi-curi pandang untuk melihatmu. Karena sering memperhatikanmu, aku tahu bahwa kau gadis periang yang selalu ceria. Aku melihat kau dikelilingi oleh orang-orang baik. Tetapi saat itu aku tak ingin mengusikmu. Makanya aku tak berani menyapamu. Dan kau tak tahu betapa aku sangat bahagia saat tahu bahwa kita kembali dipertemukan di bangku kuliah. Aku mencari-cari alasan untuk dapat nomor ponsel mu dari temanku. Semakin mengenalmu aku menjadi semakin tertarik. Dulu aku ingin langsung melamarmu setelah aku lulus kuliah. Tetapi kemudian aku ingat bahwa kau pernah bilang tak ingin menikah muda. Kau ingin berbakti pada orang tuamu dulu. Dan menyekolahkan adik-adikmu. Jadi saat kontakmu hilang. Aku tak berusaha mencari tahu. Aku ingin menunggu beberapa tahun lagi. Agar aku merasa pantas menjadi pendampingmu. Tiap hari aku berdoa agar Tuhan menjaga hatimu dari pria lain. Maka saat kita bertemu lagi dan kutau kau masih single. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melamarmu. Aku ingin kau menjadi bidadariku di dunia dan di akhera kelak" 

Mendengar penuturan itu, air mataku menetes deras. Aku sangat terharu dengan skenario Tuhan yang begitu Indah ini. Sungguh jika hati telah ditakdirkan bersatu maka sejauh apapun ia terpisah, kelak akan bersatu lagi. Kak Hafidz seseorang yang kukagumi dan kucintai dalam diamku ternyata juga menyimpan rasa yang sama denganku. Sujud syukur ku tak terhingga atas segala karunia ini. Aku tahu bahwa jalan kami ke depan masih sangat panjang. Tetapi aku yakin bersama Kak Hafidz, Insya Allah kami akan meraih Surga Ilahi. Amin Ya Rabbal Alamin 


Source: https://izdihaarblog.wordpress.com

#WritingChalleng from My Best friend
Hope this ending can be true in your true life ^_^
Amin Ya Rabbal Alamin

10 comments:

  1. Subhanallah..bgusnya ..sampe2 mau k menangis baca i .hahhahaha.. terhru k seddink..seandaix ndk di kantor k menangis2 mka kpg...ahahahah..lebay ku dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiba-tiba saya juga mau menangis baca koment mu, terharu ka juga. Hehehe,, terima kasih sdh berkenan membaca ^_^
      Semoga aku dan kamu juga sama-sama segera bertemu jodoh juga tahun ini. Amin

      Delete
  2. Replies
    1. Ehem ehem juga. Hihihi, batuk Bu Haji. Minum Ko**x
      Makasih Anha sayamz sudah mampir dan membaca ^_^

      Delete
  3. Baper euy...bacanya.
    Salam kenal kak.
    www.feriyana.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mbak Feriyana.. makasih udah berkenan mampir ^_^
      Sip nanti aku BW ke Blognya Mbak kalo udah nyetor cerita #1m1C untuk minggu ini,,hehehe

      Delete
  4. Mantaaaaapp...... semoga kisah cerpen sllnjutx kbih baper lg....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Insya Allah
      Semoga segera diberi ide untuk nulis cerpen kayak gini lagi

      Delete
  5. Aku terharuu.... melow gimana gt mbak bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Wahyu Widyaningrum udah menyempatkan baca ^_^
      Hihihi,,, melow selow .. soalnya baru belajar nulis

      Delete

Terima Kasih sudah berkunjung ^_^
Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan