Jumat, 15 April 2016

Rindu pada seorang lelaki yang bernama Ayah

Ah... hari ini terbangun dengan kondisi jiwa dan hati yang kurang baik. Gara-gara semalam mimpi buruk. (ini kok jadi kayak lagu ya, semalam aku mimpi..mimpi buruk sekali... tarik mang). Yups... terbawa mimpi pada seseorang, mungkin efek terlalu rindu. Yah... entah sudah berapa lama tak pernah lagi mendengar suaranya dari balik telpon. Ia memang tak banyak bicara. Bahkan saat berada di hadapannya kadang ia kehilangan kata-katanya dan hanya tersenyum padaku...


Ahhh Ayahku... Lelaki pemalu yg memiliki hati yang besar. Dia tak banyak bicara dan sedikit kaku. Tetapi kutau cinta dan kasih sayang nya pada kami anaknya tumpah ruah setiap waktu. 




Ayah yang dulu bertubuh tinggi dan tegap, sekarang nampak memendek dengan badan melebar. Tetapi senyumnya tetap sama seperti dulu. Senyum tulus dari hatinya yang terdalam. Dan wajah yang sama.. wajah yang selalu mengkhawatirkan ku setiap saat. Yang tak berhenti menyebut nama ku dalam tiap doa nya di Penghujung Malam. 


gambar diambil dari www.kuliahdesain.com
Ah Ayah.. tak banyak hal yang bisa kuceritakan tentang mu. Dan ku akui tak banyak hal yang kutau tentang mu. Bukan karena aku tak begitu mengenal mu tetapi memang kau tak banyak bercerita tentang dirimu. Bahkan kata-kata keluhan sangat jarang keluar dari mulutmu. Kecuali satu hal, bahwa kau begitu sulit memahami cara mengoperasikan komputer dan berbagai perangkat di dalamnya. Ah.. ayah, teringat dulu waktu pertama kali kau mengajariku mengenal huruf dan angka. Teringat dulu kau selalu menjadi guru terbaik buat pekerjaan-pekerjaan rumah dari sekolah. Teringat dulu kau selalu menjadi serba tahu menjawab pertanyaan-pertanyaan ku.

Sekarang kau tetap sama, kau tetap guru terbaik untuk ku. Kau tetap serba tahu buat ku. Dan betapa ku sangat bangga saat bisa menjawab pertanyaan dari mu tentang berapa hal. Karena sekarang kita bisa saling berbagi. Ini adalah suatu kebanggan tersendiri buatku. 



0 komentar:

Posting Komentar