Tuesday, August 18, 2015

Tentang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70



Tanggal 16 Agustus kemarin, tepat di depan rumahku ramai dari pagi hingga sore hari. Sangat berbeda dari biasanya. Ternyata sedang diadakan lomba memperingati hari kemerdekaan yang jatuh di tanggal 17 Agustus keesokan harinya. Sangat berbeda dari beberapa tahun sebelumnya saat hari kemerdekaan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tahun ini peringatan hari kemerdekaan tidak lagi bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehingga beberapa kegiatan menyemarakkan hari kemerdekaan kembali diselenggarakan di hampir tiap Instansi, Perusahaan Swasta, Gang, Kompleks Perumahan, dan Perkampungan warga.
Hari itu di depan rumahku sedang diadakan berbagai lomba untuk anak-anak agar mereka sadar bahwa Kemerdekaan yang telah diraih oleh para Pahlawan harus dirayakan dengan suka cita. Mulai dari lomba balap karung, lomba lari kelereng, lomba makan kerupuk, lomba baca puisi hingga lomba menyanyi. Tanggal 17 Agustus kemarin, Negara Indonesia tercinta ini telah merayakan Kemerdekaan yang ke 70. Bebas dari penjajahan dan penindasan dari Para kompeni-kompeni Belanda atau Orang - orang Nippon. Tetapi sebenarnya Indonesia belum sepenuhnya merdeka, Negara yang kaya raya ini masih dijajah oleh kemalasan, kebodohan, kemiskinan, dan utang negara yang seakan tak ada habisnya.
Padahal bisa dibilang Negara kita yang tercinta ini hampir mempunyai segalanya. Luas lautannya terbesar di dunia, seluas 93 ribu km persegi dan panjang pantainya sekitar 81 ribu km persegi atau hampir 25 persen panjang pantai di dunia. Pulaunya merupakan terbanyak di dunia. Tersebar dari sabang sampai merauke ada sekitar 17.504 pulau. Tiga dari enam pulau terbesar di dunia, ada di negara ini. Kekayaan flora dan faunanya juga menakjubkan. Ada 300.000 jenis satwa liar yang merupakan 17 persen dari satwa dunia. Ada 515 jenis mamalia hidup di sini. Negara ini juga menjadi habitat dari sekitar 1.539 jenis burung. Dan sebanyak 45% jenis ikan di dunia, hidup di lautan Negeri ini. Selain itu kekayaan perkebunan dan kehutanannya juga mencengangkan. Negeri ini adalah pengekspor terbesar kayu lapis yaitu sekitar 80% di pasar dunia. Produk cengkeh, pala, minyak sawit mentah menempati posisi No. 1 di dunia. Hasil karetnya No. 2 di dunia dan hasil cokelatnya No.3 di dunia. Sumber daya alamnya juga luar biasa. Negeri ini adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, penghasil batu bara terbesar, juga produsen timah terbesar kedua. Tetapi dengan kekayaan alam yang melimpah ruah ini, apakah penduduk negeri ini hidup sejahtera??? Saya pikir kita semua sudah tahu jawabannya. Bank Dunia pernah mengungkapkan angka kemiskinan di Indonesia sebesar 49% atau lebih dari 100 juta jiwa diukur dari kegagalan pemenuhan hak – hak dasar atau dengan skala pendapatan di bawah 1-2 dollar AS perhari. Data UNDP menyebutkan, Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia berada di Posisi 110, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang berada di posisi 25, Malaysia di posisi 63, Thailand di posisi 78, dan Vietnam di posisi 107. Selain itu Indonesia kini menjadi salah satu Negara dengan buruh Migran terbesar di dunia untuk pekerja rendahan. Sekitar 6,7 juta TKI bekerja di Luar negeri sebagai pembantu rumah tangga dan pekerjaan kasar lainnya. Dan Mata Uang Indonesia juga termasuk salah satu mata uang terendah nilainya di dunia. Ditambah lagi dengan nilai rupiah yang semakin merosot tajam akhir-akhir ini dibandingkan dengan nilai tukar dollar AS.  
Warta ekonomi 12 Juli 2009 juga mengungkap, negeri yang kaya hasil tambang ini menjadi negara penghutang terbesar berdasarkan PBD. Setidaknya setiap tahun 30% lebih APBN kita diambil untuk membayar bunga hutang. Jumlah yang lebih besar dari anggaran pendidikan dan kesehatan. Lebih buruk lagi, dari satu sumber dikatakan bahwa salah satu hutang nasional kita berasal dari hutang jaman Hindia Belanda. Pada masa 1949, Soekarno Hatta menyetujui pembayaran hutang Hindia Belanda sebagai strategi agar kemerdekaan diakui. Tetapi pemerintah dua serangkai tersebut tidak pernah membayarnya karena melanggar prinsip keadilan. Setelah Soekarno jatuh, pemerintah orde baru sepakat mencicil hutang Hindia Belanda selama 30 tahun sejak 1966. Artinya kita berhutang untuk membayar biaya perang pemerintah Hindia Belanda ketika melawan pahlawan dan Pejuang Nasional.
Lalu bagaimana dengan pernyataan dari Survey yang dilakukan oleh Lembaga Konsultasi Risiko Politik dan Ekonomi (PERC) yang dilansir oleh Agen Berita Perancis AFP yang pada Tahun 2009 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara dengan perekonomian paling korup di Asia. Dari skala 0 sampai 10, dimana 0 adalah indikasi bebas korupsi, Indonesia mendapatkan skor 8,32 (mendekati angka sempurna korupsi). Skor antara 4 dan 7 diindikasikan sebagai Negara dengan tingkat korupsi menengah. Negara-negara itu adalah Malaysia (6,7), Taiwan (6,47), China (6,16), Macau (5,84), Korea Selatan (4,64) dan Jepang (3,99) dan Singapura menjadi negapa Asia paling tidak korup dengan skor 1,07. (sumber: Buku No Excuse : Isa Alamsyah, hal.141)
Jadi, di usia kemerdekaan Negara Indonesia yang sudah 70 tahun, masih banyak yang perlu dibenahi. Sebagai warga negara yang baik tak pantas jika kita hanya berpangku tangan melihat ibu pertiwi semakin terpuruk. Tak perlu lah kita mengangkat senjata atau berperang dengan bambu runcing seperti para pahlawan terdahulu. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat diri, keluarga dan lingkungan sekitar agar kemalasan, kebodohan, kemiskinan, budaya korupsi bisa diberantas mulai dari akar agar tak menjadi sebuah budaya yang dibiarkan bercampur menjadi darah dan daging.

Semoga bisa menjadi bahan perenungan buat kita saya dan kita semua. 

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung ^_^
Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan