Friday, May 19, 2017

Cerpen: "Aku cuma rindu, itu saja"


Hufftt.. tiba-tiba rindu. Rindu yang datang tiba-tiba. Kenapa aku harus merindukannya disaat aku harus mempersiapkan pernikahanku yang tinggal beberapa hari lagi?

Ashar... nama seseorang yang akan mendampingiku kelak. Aku belum mengenalnya lama. Tetapi entah kenapa, hatiku mantap memilihnya. Ia adalah seseorang yang kukenal lewat proses ta'aruf di tempatku menimba ilmu agama. Ia dikenalkan oleh Ustadzah ku. Proses ta'aruf dan khitbah berjalan lancar. Orang tuaku dan orang tuanya telah memberi restu. Dan walimahan kami akan dilangsungkan beberapa hari lagi.

Tetapi kemudian tiba-tiba virus rindu menyerang. Entah kenapa aku tiba-tiba rindu pada "dia". Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dengan senyuman. Seseorang yang pernah membuat hariku lebih berwarna. Karena rindu ini, hatiku tiba-tiba meragu. Aku ragu Ashar bisa menggantikan posisi "dia" di hatiku. Menggantikan "dia" yang pernah membuat hatiku bergetar. 

Kemudian, memori lima tahun lalu terputar kembali dihadapanku...

"Aku cuma main-main saja dengannya, tak ada yang perlu dikhawatirkan"
itu kata "dia", saat sahabatku bertanya kenapa ia selalu menggangguku.

Yah, "dia" selalu mengangguku dengan tingkah konyolnya. Awalnya, aku tak menanggapi karena kupikir orang akan bosan sendiri apabila tak ditanggapi. Tetapi setelah tahu kalau dia berniat main-main denganku. Aku jadi panas dan terprovokasi. Akan kutanggapi permainannya. Dan lihat siapa yang akan menyerah duluan. 

Oh, yah "dia" itu teman sekelasku saat berstatus sebagai Mahasiswa. Dia terkenal agak gila. Iyah mungkin karena sedikit gila aku jadi tertarik padanya. 

Siang itu, aku kemudian melancarkan serangan pertamaku. 

Kuhampiri dia yang agak panik seusai perkuliahan. Dia panik karena tak ada satu orang pun yang mau meminjamkan catatan kuliah untuknya. Minggu depan kami akan UTS. Jadi kami harus belajar keras lewat buku catatan dan panduan kuliah. Sedangkan dia sama sekali tak punya catatan. Dia sering tertidur di belakang kelas saat perkuliahan mulai. 

"Ini pinjam catatanku saja. Kuberi waktu satu hari untuk kau salin atau kau fotocopy. Besok tepat jam 9 pagi kamu harus kembalikan utuh padaku" Kataku pada dia tanpa basa-basi.

Dia terdiam sejenak. Mungkin setengah tak percaya, aku mau berbaik hati padanya.

"Seriusan? Wah, kamu baik hati sekali. OK, besok akan kukembalikan plus bunga?" kata dia

"Bunga? kamu kira aku rentenir". Aku menyodorkan buku padanya dan segera berlalu

Keesokan harinya, dia benar-benar mengembalikan catatanku tepat jam 9 plus bunga. Sama seperti katanya kemarin. 

Dia benar-benar memberiku bunga. Bunga Mawar merah asli. Entah dia pungut dimana. Tetapi aku lumayan tersentuh.

"Tidak... tidak, aku tak boleh tersentuh. Aku tak boleh goyah hanya karena bunga yang hampir layu ini. Ini peperanganku dengannya, dan aku tak boleh pake hati", kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Beberapa menit kemudian, "dia" lalu masuk ke dalam kelas sambil senyum-senyum sendiri. Ia kemudian menghampiri mejaku dan berkata, 

"Aku sudah tepati janjiku untuk mengembalikan bukumu utuh plus bunga. Oh yah bunganya secantik kamu. Tadi kupungut depan Rektorat"

What? ternyata dia benar-benar memungutnya di jalanan. Dia benar-benar mengejekku. Kuambil bunga mawar itu dan kulemparkan ke wajahnya. Ia lalu tertawa dan melemparkannya kembali padaku. Begitu berulang-ulang, hingga seorang teman lewat dan berkata, 

"Wah kalian sudah jadian? selamat ya". Semoga langgeng sampai pelaminan.

Dia kemudian tertawa keras, dan berteriak "Perhatian-perhatian, aku dan Rara sudah jadian, jadi tak ada seorang pun yang boleh menyakitinya. Buat cowok-cowok gak boleh ada yang melirik Rara. Karena dia sudah memilihku" katanya tanpa rasa malu sambil menepuk dada.

Hah, aku terperangah dengan pengumuman yang ia buat tanpa malu. Aku tau dia bercanda dan memang sedikit gila. Tetapi bagiku itu sungguh keterlaluan. Bermain-main dengan perasaan orang lain, bukan perbuatan baik. Dia sangat keterlaluan. Tetapi jika sekarang aku marah, berarti aku yang akan kalah. 

Teman-teman sekelas yang mendengar pengumuman "dia" lalu bertepuk tangan riuh. Seolah ikut berbahagia dan merestui. 

Dan beberapa hari berikutnya, kejadian yang sama terus terulang kembali. Entah kenapa, "Dia" jadi semakin gila. Dia mengikuti kemana pun aku pergi. Aku sedang di perpustakaan, diapun ada disitu. Padahal yang kutau dia sangat alergi dengan aroma buku. Aku sedang di kantin, diapun sedang disitu. Menikmati semangkok bakso dengan wajah gembira. 

"Dari kemarin, kamu ngikutin aku terus ya?. Aku jadi risih tau?", kataku pada dia

"Wuah, kamu ke-Ge-Er an, Kapan aku ngikutin kamu???" kata dia sambil senyum - senyum

"Huft, tadi waktu di perpus aku liat muka kamu. Terus di kantin aku juga liat muka kamu. Sekarang kamu ngikutin aku juga sampe ke Mushalla, iyakan?"

"Hum, tadi aku memang ke perpus. Tapi itu untuk nyari referensi makalahnya Pak Ari. Aku juga tadi emang ke kantin, itu memang karena aku lagi laper. Nah, sekarang aku di Mushalla, karena abis shalat dhuhur. Ada yang salah?"

"Em, gak ada yang salah seh. Untuk di perpus dan di kantin okelah tak apa. Tetapi kalo liat muka kamu di Mushalla kayaknya langka banget deh. Kamu sudah dapat hidayah ya? soalnya ini kali pertama liat muka mu disini"

"Em, iya seh, kemarin-kemarin aku memang suka bolong-bolong shalatnya. Tetapi sekarang aku benar-benar mau hijrah neh. Aku mau belajar lebih banyak lagi soal agama. Supaya nanti aku bisa jadi imam yang baik buat kamu", kata dia sambil nyengir

"Ya elah, siapa juga yang nyuruh kamu jadi imam buat aku? Mending niat kamu perbaiki dulu deh. Harusnya hijrah itu karena Allah bukan karena manusia"

"Benar juga seh kata kamu. Ih, kamu emang pantes dapat IPK 4,0. Soalnya kamu pinter. Jadi pengen segera halalin kamu," 

"Belajar ngaji dulu sana. Perbaiki shalat. Benahin Akhlak. Setelah itu baru kita bicara soal halal-halalan lagi. Udah ah. Bye" kataku sambil berlalu.

Sudah hampir lima tahun berlalu. Aku sudah tak tahu kabarnya saat ini. 

Percakapan kami hari itu terputar kembali di otakku. 

Hari itu, aku merasa sedikit demi sedikit mulai mengenalnya. Aku mulai tertarik dengan kepribadiannya. Awalnya dia terlihat sedikit gila dan urakan. Tetapi kemudian, setelah mengenalnya, aku jadi tahu kalau sebenarnya "dia"  anak yang baik. Hanya saja ia sering salah mengekspresikan perasaannya.

Tetapi sekali waktu, dia kadang menjadi sangat pemalu dengan wajah merah padamnya. Sekali-kali dia tampak bijaksana, namun lebih sering kekanak-kanakan. Terkadang dia sangat menyebalkan tetapi terkadang juga dia menggemaskan. Mengenalnya memberiku pelajaran berharga untuk berhenti menjudge orang lain, hanya dengan melihat penampilan luarnya saja. 

Yah, aku merasa dia menempati posisi spesial di hatiku saat itu.

Hingga kemudian hari itu tiba. Hari dimana dia telah menjadi lebih dewasa dan bijak. Dia lalu mendatangiku dengan wajah tertunduk. Tak berani sama sekali menatap wajahku. Ia lau meminta maaf karena seringkali membuatku marah dan jengkel. Meminta maaf karena seringkali mengusik ketenanganku. Meminta maaf atas segala kelakuan konyolnya di masa lalu. Dia ingin berhijrah dan menjadi pribadi lebih baik lagi, bukan untuk siapa-siapa, tetapi lebih mendekatkan dirinya pada Ilahi. Saat itu, aku terharu dengan pengungkapannya. Aku merasa bahagia bercampur sedih. Bahagia karena ia telah berubah. Tetapi agak sedih juga karena kini, dia bukan yang dulu lagi. 

Waktu itu, aku hanya tersenyum padanya, lalu berkata "Aku telah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf. Aku pun sama, aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

"-"
Kisah itu terputar kembali di otakku malam ini...

Tak apa, aku pikir aku cuma rindu. Itu saja...
Setelah ini, rindu ini tak akan pernah hadir lagi.
Karena kenanganku bersama dia akan berangsur-angsur terhapus dengan kenangan yang kubuat bersama Ashar. Seseorang yang akan mendampingiku di sisa hidupku. 

"Dia" sudah berbahagia saat ini, dengan seseorang yang ditakdirkan untuknya. Dan aku pun akan pastikan berbahagia dengan pilihan hatiku sendiri. Mari cukupkan rindu ini sampai sini saja. Sampai detik ini saja. Dan tak akan berlanjut ke detik berikutnya ataupun di masa depan. SEKIAN.

Hey, apa kabarmu jauh disana???
Tiba-tiba teringat cerita yang pernah kita upayakan
Kupikir aku berhasil melupakanmu
Berani-beraninya kenangan itu datang tersenyum

Meskipun jalan kita tak bertemu 
Tapi tetap indah bagiku
semoga juga bagimu...

Kau tahu aku merelakanmu
Aku cuma rindu
Aku cuma rindu

Takkan mencoba tuk merebutmu
Aku cuma rindu...
Itu saja.

Gagal...
Kali ini gagal bersembunyi 
Dibalik kata-kata bijak
yang selalu mampu
membuat aku terlihat tangguh
padahal hancur lebur harapan
yang terlanjur kupercaya
aha,, aaa...

Meskipun jalan kita tak bertemu
Tetapi tetap indah bagiku'
semoga juga bagimu

Kau tahu aku merelakanmu
Aku cuma rindu, Aku cuma rindu
Takkan mencoba tuk merebutmu

Aku cuma rindu
Itu saja.... itu saja...aaa

Senyuman itu...
Masih selalu menenangkanku..

Masih belum bisa move on dari Tema RINDU dua minggu yang lalu dari #1m1c

Entah kenapa tema ini membuat ide-ide di kepalaku meletup-letup menunggu untuk di tuangkan di postingan blog ini... ya udah kutulis saja. Karena menulis itu membahagiakan ^_^ nulis ini karena tiba-tiba terinspirasi dari Lagu "RAIN - GAGAL BERSEMBUNYI" 

Let's check this out LAGUNYA ^_^ 

video




4 comments:

  1. Woaaaa..jadi kebawa rinduuu dgn ceritanyaaaaa..
    btw ini crita pribadikah?xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Nhae Gerhana udah mampir ^_^
      hihihi,, ini bkn crita pribadi, ini crita fiksi
      tiba-tiba mau dpt ide cerita itu krn dgr lagu nya rain-gagal bersembunyi itu.. hahahah

      Delete
    2. Seperti kisah ini tidk asing..
      ehmm tp bedanya kisah temanku yg dulu terjadi waktu KKN..
      cinta bersemi di lokasi KKN..

      Delete
    3. hahahah.. kisahnya pasaran ya ternyata ^_^
      Em,, kalo KKN itu mmg sering tuh cinlok hahahah
      thanks udah mampir

      Delete

Terima Kasih sudah berkunjung ^_^
Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan