Jumat, 05 Mei 2017

Tunggu aku pulang


Aku merindukanmu... 


Setelah kutulis kata itu di atas kertas putih, hatiku menjadi lebih tenang. Kulipat kertas yang agak lembab itu. Kertasnya menjadi sedikit basah karena air mataku yang terus mengalir. Rasanya aku punya stok air mata yang banyak. Karena setiap mengenang wajahmu, tiba-tiba air mataku meleleh begitu saja tanpa bisa kutahan. 

Bahkan di malam ini, malam ke 200 setelah kepergianmu...

Katanya, "Waktu bisa menyembuhkan luka", Tetapi mengapa saat rindu itu muncul, hatiku seperti tercabik-cabik. Rasanya sangat perih... Hingga kemudian kutemukan penawar rasa sakit itu. Dengan menulis surat... untukmu.

Iyah,, aku menulis surat untukmu. Menumpahkan semua rasa perih di hatiku, menumpahkan semua rasa rinduku, dan segala penyesalanku. Dan selalu, surat itu akan basah oleh air mataku. Bersama dengan tetesan air mataku, rasa perih yang kurasa akan berangsur-angsur memudar. Lalu seperti biasa, surat-surat itu akan kulipat rapi, kumasukkan ke dalam sebuah amplop putih. Kemudian kutumpuk diatas meja kerjamu. Tak ada alamat yang dituju atau perangko yang tertempel. Karena memang, surat-surat itu bukan untuk dikirim, tetapi hanya sebagai penawar rasa perih di hatiku saja. Dan juga pengobat rasa rinduku.

Kau... seseorang yang bersanding denganku di pelaminan. Mengambil alih peran ayahku bertanggung jawab untuk diriku. 
Kau... seseorang yang menjadi Imam di tiap sholatku. Menjadi pemimpinku di hadapan Tuhanku.
Kau... seseorang yang dipilihkan orang tuaku dan direstui oleh Tuhanku 
Kau... Yang tak pernah sekalipun hadir di benakku. 
Kau... seseorang yang tak pernah kusebut dalam doaku. 

Maaf...karena telah menyia-nyiakan dirimu. 
Maaf...karena dulu aku tak pernah menganggapmu ada. 
Maaf atas waktu kita yang terbuang percuma. 
Maaf... karena aku terlambat mencintaimu.

Haruskah aku menyusul dirimu saat ini???
Untuk Pergi menghadap Tuhanku

Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sangat baik jika kita bertemu kembali
Tetapi bagaimana jika seandainya disana kita tak bertemu?
Bagaimana jika seandainya kau dan aku menempati ruang yang berbeda?

Iyah, kau dan aku pasti ditempatkan di ruang yang berbeda
Sebab apa? sebab kau orang baik sedangkan aku tidak

Kau yang mencintaiku dengan segala ketulusan dan kebaikan hatimu
Dan aku yang selalu berlaku kejam padamu, mengacuhkan dan tak peduli
Pastilah kita akan dimasukkan di tempat yang berbeda.

Ah, aku tak ingin itu terjadi
Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi bidadarimu di dunia
Maka akan kupastikan diriku akan jadi bidadarimu di Surga kelak
Yah, itu satu-satunya cara untuk menebus rasa bersalahku

Aku berjanji akan berusaha terbaik disini, di dunia ini
Agar kita bisa ditempatkan di tempat yang sama

Sekali lagi, aku berjanji untuk... 
Kupastikan diriku akan menjadi satu-satunya Bidadarimu di Surga

TUNGGU AKU PULANG SAYANG...


#Menulislah walau hanya satu minggu satu cerita
Tema Tulisan untuk Minggu ke-15 : RINDU

6 komentar:

  1. Balasan
    1. Maaf sdh bikin mbak Citra sedih T_T
      tp makasih loh udah mampir ^_^

      Hapus
  2. semoga kelak jika waktunya tiba, akan kembali disatukan di surgaNYa yg penuh keindahan ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Rabbal Alamin... tp ini crita fiksi kok mbak Not from my true story ^_^
      Makasih udah mampir Mbak RahmaMocca

      Hapus
    2. Awwe pulang meki mbak..
      Karena ada mi calon imamta tunggu dirumh..

      Hapus
    3. Hahaha... situ dukun ya kok bisa tau???
      wkwkwkw

      Hapus