Saturday, April 11, 2015

Menjadi Penulis... Why Not???

Aku tidak tahu kenapa menulis menjadi sebuah pekerjaan yang sangat sulit kulakukan. Padahal ide-ide sepertinya sedang meletup meletup di otak ku, tetapi sangat sulit sekali rasanya menuangkan nya dalam bentuk kata-kata. Aku kesulitan dalam penciptaan rangkaian kalimatnya, penyusunan alurnya, penggambaran setting tempat dan waktunya serta penggambaran tokohnya. Berarti aku mengalami kesulitan hampir di tiap tahap penulisan. Padahal ketika membaca sebuah karya tulisan baik itu cerpen atau novel, aku merasa kalau aku pun pasti bisa menulis seperti itu, membaca sebuah karya terlihat sangat mudah mungkin karena kita tidak mengalami sendiri bagaimana sang penulis berusaha sangat keras menemukan ide, berpikir berulang-berulang untuk menciptakan alur dan berkali-kali melakukan revisi untuk melahirkan sebuah tokoh lengkap dengan karakter khasnya.
***



Kata salah satu buku penulisan yang kubaca, menulis bisa menjadi sebuah pengalaman mudah dan menyenangkan saat kita bisa menulis dengan  menjadi diri sendiri. Mulai menulis dengan hal yang paling mudah yaitu  menceritakan pengalaman berkesan yang bisa menjadi bahan perenungan juga buat orang lain agar lebih berhati-hati. Untuk sebuah pemulaan, menulis sebuah cerita pendek mungkin bisa jadi pilihan. Menulis saja dulu tanpa harus memperhatikan tata bahasa, pengaturan tanda baca atau tentang ejaan yang disempurnakan. Menulis saja dulu, biarkan cerita dan pengalaman itu mengalir apa adanya dan langsung selesaikan dalam sekali duduk atau tanpa jeda. Agar pengalaman atau ide yang sudah ada di otak bisa langsung dituang dalam bentuk kata-kata. Melakukan penundaan dengan dalih untuk mencari udara segar atau menciptakan ide baru hanya akan membuat kita menjadi sosok penunda-nunda yang nantinya bakal menciptakan tulisan sepotong-sepotong tanpa akhir yang jelas, akhirnya tulisan akan bernasib sama dengan luntang lantung TKW ilegal yang diberangkatkan ke Luar Negeri tanpa ada kejelasan nasib. Jadi untuk menghindari hal tersebut, sebelum menulis buatlah dulu kerangka tulisan di kertas berupa coret-coretan tentang isi tulisan mulai dari awal hingga ending. Coretan – coretan akan menjadi peta yang akan menjadi petunjuk tulisan akan dibawa kemana.




Nah, setelah melalui proses penuangan ide dalam bentuk tulisan utuh dari awal hingga akhir. Istirahlah dulu, biarkan otak kita mengendurkan urat-urat sarafnya. Dan simpan tulisan di tempat yang tak mudah dijamaah orang lain atau hewan-hewan nakal yang mungkin akan tertarik untuk menggigit-gigit kertas atau memakannya. Biarkan tulisan itu istirahat juga untuk sejenak. Setelah tubuh dan otak sudah merasa segar, barulah kita buka kembali tulisan lama itu dan membacanya kembali lalu melakukan revisi-revisi pada bagian-bagian yang dirasa perlu diperbaiki mencakup penggunaan tanda baca yang benar dan sesuai dengan kaidah ejaan yang disempurnakan. Setelah kita merasa cukup bagus, mintalah teman atau anggota keluarga untuk membacanya dan memberikan kritikan sebelum tulisan-tulisan itu benar dikirim ke penerbit. Setelah kita yakin tulisan itu sudah bagus dan bisa diterima khalayak umum barulah kita mencoba peruntungan mengirimkan nya ke penerbit atau redaksi media massa yang tepat, maksud saya jangan sampai tulisan kita membahas soal permasalahan remaja kita malah mengirimkan nya pada majalah dewasa. Pasti tulisan kita bakal ditolak karena tidak sesuai dengan visi dan misi majalah. Jadi pandai-pandai memilih penerbit atau redaksi yang dituju ya... Wassalam ^_^



0 comments:

Post a Comment