Rabu, 01 April 2015

Sinopsis Novel "Jejak - Pepi Al Bayqunie"

Assalamualaikum

Kali ini ane mau bahas sinopsis novel keren berjudul Jejak. Novel ini ditulis oleh Pepi Al Bayqunie yang lahir di Cappasolo, sebuah dusun kecil di Malangke, Luwu Utara Propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini beliau bekerja sebagai peneliti di Balitbang Agama Kota Makassar. Beliau telah menelurkan beberapa karya diantaranya Tahajud Sang Aktivis (2012), Kasidah Maribeth (2013), dan ikut nimbrung nulis dalam buku NU Miring (2010) serta Jimat NU (2013). Dan karya terbaru nya berjudul Jejak yang akan saya bahas kali ini. Novel ini sangat menarik karena mengambil setting tempat di Kota Makassar dan beberapa desa kecil di Propinci Sulawesi Selatan
Okay...let's check this out

Judul               : Jejak
Penulis             : Pepi Al-Bayqunie
Penerbit           : Pustaka Mafaza, Solo
Terbit               : Januari 2015
Tebal               : 188 Halaman
Cetakan           : Pertama





         Kisah di novel ini bermula ketika Sang tokoh utama yang bernama Irfan, seorang Mahasiswa tingkat akhir di Sebuah Universitas terkemuka di Kota Makassar tertidur di dalam kelas lalu bermimpi bertemu seorang putri kerajaan di sebuah gua. Putri kerajaan itu bersimpah darah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di pelukan Irfan setelah memberikan liontin berbentuk bunga pada Irfan. Irfan kemudian terbangun dengan perasaan sakit di hatinya, entah kenapa dia merasa sudah mengenal putri kerajaan itu sejak lama, tetapi entah dimana. Di saat Irfan sedang menunggu di halte, dia melihat gadis yang wajahnya mirip dengan putri kerajaan yang hadir di mimpinya. Dia begitu tertarik pada gadis halte itu, Kemudian ia teringat pada pesan Pak Pongo, guru lukisnya, yang mengatakan bahwa jika kau berhasil melukis dengan mata tertutup maka gadis yang kau lukis adalah jodoh mu.

Ternyata Irfan berhasil melukis bentuk bibir gadis halte itu dengan sempurna. Tetapi lukisan bibir itu mengingatkan Irfan akan cinta pertamanya yang bernama Hilda. Hilda memutuskan hubungan dengan Irfan karena harus menikah dengan pria lain dan pindah ke kota lain. Di saat Irfan mulai tertarik dan mencari tahu tentang gadis halte itu, Hilda kembali hadir di kehidupan Irfan dan memberikan harapan baru pada Irfan karena ternyata Hilda tak jadi menikah dengan pria itu. Irfan sejenak melupakan gadis halte itu dan menaruh harapan pada kehadiran Hilda. Dia pun mencoba untuk melukis sosok cinta pertamanya itu dengan mata tertutup, tetapi saat lukisan selesai, yang nampak adalah sosok gadis cantik dengan baju kerajaan dan liotin bunga di lehernya, dan itu bukan Hilda. Lukisan itu lalu diikutkan pada acara pameran lukisan Pak Pongo. Tanpa disangka, lukisan itu menjadi jembatan pertemuan Irfan dengan gadis halte yang bernama I Coppo Bungaeja. 

Lukisan putri kerajaan itu sangat mirip dengan wajah I Coppo Bungaeja. Irfan merasa terheran-heran kenapa ia bisa melukis wajah I Coppo Bungaeja dengan sempurna padahal ia baru pertama kali melihatnya. Di saat yang sama, Hilda meminta bantuan Irfan untuk menemaninya melaksanakan wasiat Almarhum ayah Hilda untuk mencari kakek Hilda di Komunitas To'bare. Perjalanan Irfan dan Hilda di komunitas To'bare kembali mempertemukan Irfan dengan I Coppo Bungaeja yang ternyata cucu dari Komunitas Penghayat Kepercayaa lokal itu. Perjalanan itu membuka banyak tabir dari teka teki yang telah menghantui Irfan diantaranya kenapa bibir Hilda dan I Coppo Bungaeja sangat mirip? ternyata mereka adalah saudara sepupu. Kenapa Kakek Hilda terpisah dari ayah Hilda? ternyata kakek Hilda pernah ditangkap karena dianggap sebagai kaki tangan para komunis di tragedi G 30S PKI hingga akhirnya di usir dari desa Komuniatas To'Bare. Setelah Hilda berhasil menemukan kakeknya, ia pun kembali ke Kota Surabaya. Irfan kembali ke Kota Makassar dan berkutat dengan penyelesaian skripsinya. 

Hingga kemudian I Coppo Bungaeja menemui nya dan menyuruhnya untuk kembali dan bertemu kakeknya yang tak lain adalah ketua adat dari Komunitas To'Bare. Irfan pun kembali ke komunitas To'Bare, tetapi kini ia tidak lagi dianggap orang asing. Irfan dianggap sebagai titisan dari Pangeran Ranggasela. Karena Irfan bisa melukis sosok Putri Bunga Singkerurupa lengkap dengan liontion bunga di lehernya. Komunitas ini percaya bahwa hanya orang-orang terpilih saja yang bisa melukis sosok Putri yang merupakan kekasih dari Pangeran Ranggasela. Seseorang yang namanya begitu dijunjung tinggi oleh masyarakat pengikut kepercayaan lokal ini. Bahkan mereka rela angkat kaki dari tempat kelahiran mereka yang mayoritas menganut agama Islam hanya karena menjunjung tinggi titah dari Pangeran Ranggasela yang sangat dihormati itu. Pusaka berupa liontin bunga yang disimpan dan dijaga oleh komunitas kemudian hilang dari tempatnya dan Irfan yang dianggap sebagai reinkarnasi dari Pangeran Ranggasela diberi tugas untuk menemukan kembali Liontin itu. Sebelum pencarian liontin tersebut, Irfan di perlihatkan sebuah peninggalan pusaka lain dari Pangeran Ranggasela, mereka menyebutnya lontara. Irfan ternyata bisa membaca isi dari lontara tersebut. Sebab lontara tersebut berisi kalimat-kalimat pujian pada Allah SWT dalam bentuk bahasa Arab. Komunitas yang menjaga pusaka tersebut bertahun-tahun yang bukan beragama Islam tidak mampu membaca pusaka tersebut. Irfan menduga bahwa Pangeran Ranggasela adalah seorang muslim. Dugaan nya tersebut tepat setelah pusaka-pusaka lain seperti kotak hitam yang hanya dapat dibuka dengan melafazkan kalimat Allahu Akbar, dan ditemukannya Al Qur'an di gua tempat Pangeran Ranggasela dulu diasingkan. 

Menyadari kenyataan tersebut Irfan sebenarnya punya kesempatan untuk meng Islam kan Komunitas yang menganut kepercayaan nenek moyang itu, tetapi Irfan memilih untuk menyampaikan kebenaran itu dengan cara yang lebih sederhana. Karena menurutnya Keyakinan kepada Sang Pencipta haruslah didasari dengan ketulusan dan dari hati nurani bukan hanya karena ikut-ikut an. Beberapa hari di Komunitas To'bare, Irfan merasa cinta nya pada I Coppo Bungaeja semakin besar, dan sepertinya I Coppo Bungaeja merasakan hal yang sama. Tetapi cinta mereka terhalang oleh Kakek I Coppo Bungaeja, Uwa Batoa. Uwa Batoa tidak akan membiarkan cucunya menikah dengan seorang yang berbeda keyakinan dengan mereka termasuk Irfan sekaligus. Irfan tidak kuasa menentang perintah Uwa Batoa, dan ia memilih mundur dan mengikhlaskan I Coppo Bungaeja.

Kira-kira bagaimana akhir kisah Irfan dan I Coppo Bungaeja??? cari novelnya ya ^_^

0 komentar:

Posting Komentar