Kamis, 28 Mei 2015

Caraku menumbuhkan semangat

Hari senin pagi adalah waktu dimana semangat seakan hilang entah kemana. Hufttt... ketika membuka mata di pagi hari ingin rasanya berdoa pada Tuhan supaya hari Ahad kemarin terulang kembali di hari senin ini. Kegiatan bersantai seharian di akhir pekan seakan menjadi candu. Mengawali awal pekan dengan semangat yang down akan membuat pekerjaan yang seharusnya diselesaikan segera menjadi tertunda dan pada akhirnya akan menjadi menumpuk. Yah,,begitulah kira-kira yang sering aku rasakan selama ini. Berkutat dengan kertas-kertas jurnal, nota-nota penjualan, dan seharian penuh bertatapan dengan layar komputer sukses membuatku jenuh dan bosan stadium akhir. Tetapi karena hidup ini hanya sekali kuputuskan untuk mencari kembali serpihan-serpihan semangat ku di awal pagi ini.



Teringat sebuah kisah Ibu Rumah Tangga yang merasa jenuh dan bosan dengan aktivitas seharian nya di rumah yang hanya berkutat dengan merawat anak, melayani suami dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Hingga akhir nya ketika semua anak-anaknya berangkat ke sekolah dan suaminya sudah berangkat kerja. Sang ibu memutuskan untuk cuti sejenak dari pekerjaan rumah tangga yang membuatnya merasa jenuh. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke kota. Tak ada tempat yang ingin dituju nya. Ia hanya ingin melakukan perjalanan yang diharapkan akan menghapus rasa jenuh nya. Dan ternyata benar. Tiba-tiba semangat nya kembali terisi saat melihat di sepanjang jalan banyak sekali orang-orang yang ternyata jauh kurang beruntung di bandingkan dirinya. Dan mereka semua tetap terlihat bahagia menjalani aktivitas mereka. Ada ibu-ibu tua yang memanggul dagangan nya berupa puluhan ikat sayuran... Ia kemudian menggelar karpet di pinggir jalan di pasar dan menebarkan senyuman kepada setiap orang yang lewat sambil menawarkan sayurannya yang mulai kering karena panas matahari. Lalu di dalam bis, Ibu tadi berbincang sejenak dengan ibu-ibu lain yang duduk tepat di sebelahnya. Ia membawa berbagai macam bahan makanan, mulai dari beras, sayur, ikan, daging, dan beberapa lagi yang lain yang mungkin akan digunakan sebagai persediaan makanan selama seminggu. Dari perbincangan tersebut, Ibu tadi mengetahui bahwa yang duduk di sebelahnya adalah seorang ibu yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga, selain profesi yang bisa dibilang tidak mudah itu, Ibu lain tadi ternyata juga seorang Single Parent dengan 4 orang anak. Dan karena kehidupan yang sulit, ia harus menitipkan anaknya pada ibunya yang tinggal di Kampung Halaman. Dari perbincangan yang memakan waktu hampir setengah jam tersebut, Ibu yang Single Parent tadi tidak pernah mengucapkan satu pun kalimat mengeluh dari bibirnya. Bahkan ia sering kali tersenyum kala menceritakan tentang putra-putri nya di kampung yang mulai tumbuh dan cerdas. Setelah mendapat banyak pelajaran dari Ibu-Ibu tukang sayur dan Ibu Asisten Rumah tangga tadi. Ibu tadi lalu mengambil bis lain yang menuju rumahnya. Di depan traffic light dilihatnya ibu-ibu lain dengan pakaian rombeng dan bayi kecil sedang tertidur dalam pelukannnya. Saat lampu merah menyala, ibu-ibu tadi bersama para pengamen jalanan segera menghambur kejalanan dan meminta belas kasihan dari mobil-mobil mewah yang berhenti. Tak sedikit yang pura-pura mengacuhkannya dan bahkan memakinya. Dan ibu tersebut hanya mengucap terima kasih dan berlalu dengan wajah sedih. Ibu tadi lalu menghela nafas berat. Ia kemudian memegang dadanya dan bersyukur pada Tuhan atas segala anugerah dan nikmat yang luar biasa yang telah ia terima dalam hidupnya. Tentang Suami yang mencintai nya dengan ikhlas, tentang anak-anaknya yang patuh, tentang Makanan, Minuman dan Pakaian yang berlebih dan tentang kesehatan yang masih dimilikinya. Ia bersyukur atas semua itu, dan tiba-tiba jiwa yang kosong tadi telah terisi penuh oleh kebahagian, rasa syukur, dan semangat untuk bisa menjadi lebih berarti bukan hanya untuk keluarga tercinta nya tetapi juga untuk orang-orang kurang beruntung di sekitarnya.

Mengenang kembali kisah itu, aku pun melakukan langkah yang sama. Kulangkahkan kaki melawan rasa malas untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar kompleks rumah. Mengumpulkan serpihan-serpihan semangat dengan menyaksikan beragam kisah. Dan dari beberapa menit jalan-jalan sekitar kompleks perumahan kudapati beberapa potret yang mungkin saja memiliki kisah yang bisa menginspirasi. Tetapi karena saya tidak punya banyak waktu untuk menggali lebih dalam tentang kisah itu, kubiarkan potret itu tersimpan saja disini.... 

Ini tentang hangatnya mentari pagi...


Ini tentang lorong kecil yang nampak tenang, nyaman, dan damai


Ini tentang jendela rumah yang selalu nampak tertutup...



Ini tentang anjing cantik berbulu putih bersih yang nampak tenang menjaga pintu rumah

dan terakhir..Ini tentang awan bertingkat-tingkat seolah membentuk tangga yang akan menghubungkan mu dengan langit biru yang seolah - olah begitu mustahil untuk dicapai


Dan dari perjalanan yang hanya beberapa menit saja, sukses membuat semangat ku terisi kembali. Semangat untuk menantang hari yang mungkin tak akan selamanya berlaku baik padaku. Tetapi tetap saja selama aku bisa melihat langit biru, selama aku masih bernafas, aku siap untuk menantang hari


0 komentar:

Posting Komentar