Monday, May 4, 2015

Review Film Orpan

Assalamualaikum...

Karena kemarin tanggal merah di kalender karena bertepatan dengan hari Buruh. Jadi deh saya cuma malas-malasan di kamar seharian ditemani laptop dan buku. Kerjaan seharian cuma baca buku dan nonton. Pas lagi asyik-asyiknya baca buku, teman sekamar juga lagi asyik menonton film hollywood berjudul Orphan. Saya yang saat itu sedang asyik-asyiknya membaca buku akhirnya teralihkan untuk ikut menonton. Di beberapa Adegan Film saya selalu refleks mengucap istigfar saat seorang anak dalam film tersebut melakukan kejahatan-kejahatan keji. Dan ternyata di akhir film barulah terkuak siapa anak itu sesungguhnya. Penasaran dengan review nya keselurahan.. Okey let's check this out


Film yang disutradarai oleh Jaume Coller Serra ini dirilis pada tahun 2009 dengan genre horror. Dari judulnya yang berarti anak yatim piatu. Saya awalnya menerka kalau film ini bercerita tentang anak yatim piatu yang diadobsi oleh keluarga kaya lalu disiksa hingga mati dan menjadi hantu... (Heheheh, ini kayaknya film horror versi Indonesia).. Tetapi saya salah total.


Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan 2 orang anak yaitu laki-laki dan perempuan. Pada saat si Ibu sedang mengandung anak ke tiga, di usia kandungan yang sudah tua, ia lalu diberi kabar oleh dokter bahwa anak dalam kandungan nya yang sudah ia beri nama Jessica telah meninggal akibat keguguran. Si ibu yang tidak bisa menerima keadaan tersebut menjadi depresi dan selalu dihantui oleh perasaan bersalah. Ia lalu ke psikiater untuk konsultasi masalahnya, Si Psikiater lalu menyarankan agar ia mengadopsi seorang anak lagi agar rasa bersalah itu hilang. Setelah berembuk dengan keluarga nya, mereka sepakat untuk mengadopsi seorang anak berumur 9 tahun dari sebuah panti asuhan. Anak itu bernama Esther. Sejak pertama bertemu Esther, sepasang suami istri ini melihat ada hal lain dari anak ini, dia berbeda dari kebanyakan anak lain yang seusianya. Esther memiliki pemikiran dewasa, sangat santun dan selalu berkata-kata manis. Dia seperti malaikat dengan wajah cantiknya. Max yang merupakan anak perempuan dari keluarga tersebut yang mengalami gangguan pada pendengarannya dan tak bisa berbicara, menyambut baik kedatangan Esther. Dia merasa sangat senang karena memiliki saudara baru. Sedangkan anak laki-laki keluarga tersebut yang bernama Daniel sangat tidak suka dengan Esther karena ia merasa ada yang aneh pada tatapan Esther. Hari-hari Esther pun dimulai. Ia disekolahkan di sekolah yang sama dengan saudara-saudara nya. Di sekolah ia sangat pendiam dan selalu membawa Al Kitab kemana-mana, hingga ia menjadi sasaran bully dari salah satu anak perempuan di sekolah tersebut. Beberapa hari kemudian, anak itu ditemukan sedang terluka dengan kaki yang patah akibat jatuh dari tempat bermain. Dan yang mendorong anak itu adalah Esther, tetapi tak ada yang melihatnya kecuali Max. Max yang menyukai Esther berusaha menutup-nutupi kesalahan Esther. Hingga kemudian Eshter dinyatakan tidak bersalah. 
Salah seorang suster di sekolah tersebut lalu menyelidiki latar belakang Kehidupan Esther. Ia terkejut, karena menemukan banyak kejanggalan pada latar belakang kehidupan Esther. Ternyata dia pernah diadopsi oleh seorang keluarga, lalu beberapa saat kemudian seluruh anggota keluarga tersebut ditemukan tewas dengan rumah yang terbakar dan Esther ditemukan berada disitu. Kemudian di Sekolahnya yang dulu ada seorang anak yang ditemukan tewas dengan benda tajam di tangannya sendiri, dan Esther berada di dekat situ. Sang Suster lalu berusaha untuk meyakinkan sepasang suami istri itu untuk mengembalikan Ester ke Panti Asuhan. Tetapi mereka menolak karena tak ada bukti yang jelas kalo Esther melakukan kejahatan. Esther yang tahu kalau Si Suster berusaha membawa nya pulang ke Panti Asuhan lalu mengambil martil dan Pistol dari kamar Ayah angkatnya dan mengajak Max bersamanya. 
Sang Suster keluar dari rumah dengan perasaan kecewa karena tak berhasil meyakinkan Orang Tua angkat Esther itu. Ia lalu mengendarai mobilnya menuju Panti Asuhan. Esther dan Max sudah menunggunya di pinggir jalan. Max yang mengikuti Esther dengan sukarela tanpa tahu rencana jahat Eshther lalu di dorong ke jalan saat mobil Sang Suster lewat. Syukurlah Sang Suster berhasil membelokkan mobilnya sehingga tidak menabrak tubuh Max yang tiba-tiba jatuh ke jalan. Sang Suster lalu keluar dari mobil dan membantu Max berdiri. Sementara fokus dengan Max, tiba-tiba Esther datang dari arah belakang dan memukul kepala Sang Suster dengan martil lalu menyeretnya ke dalam hutan. Daniel, saudara angkatnya Esther ternyata melihat semua kejadian itu dan sangat terkejut lalu segera lari ke rumah sebelum Esther menyadari kehadirannya. Martil yang penuh dengan bercak darah lalu disembunyikan Esther di rumah pohon tempat Daniel saudara angkatnya selalu bermain. 
Teror-teror Esther di rumah tersebut pun berlanjut. Ia memperlihatkan pada ibu angkatnya kalau dia sangat mahir bermain piano lebih dari kemampuan ibu angkatnya. Di depan ibu angkatnya ia mulai menunjukkan sosok aslinya dengan berkata-kata jahat. Ia melepas rem dari mobil yang diparkir ibu angkatnya sementara di dalamnya masih ada Max pada saat Ibu Angkatnya melihat buku-buku Daniel yang berjatuhan dari tas. Syukurlah mobil itu hanya menabrak tumbukan salju. Tetapi akibat dari ulah Esther, pasangan Suami Istri yang awalnya bahagia mulai berubah karena Sang Suami merasa Istri nya tidak becus mengurus anak-anaknya. Sedangkan Sang Ibu Angkat yang mulai menyadari sifat jahat Esther terus meyakinkan suaminya bahwa Esther punya sisi gelap dan ia harus segera dikeluarkan dari rumah. 
Esther kembali berulah dengan memotong bunga mawar putih kesayangan ibu angkatnya yang tumbuh di makam Jessica (Anak ibu angkatnya yang meninggal dalam kandungan). Sang Ibu Angkat sangat marah lalu mencengkram lengan Esther. Walaupun cengkeraman tangan ibu Angkatnya tidak terlalu menyakitinya, Esther berpura-pura berteriak sangat keras di depan ayahnya lalu segera berlari ke dalam kamar. Melihat hal itu, Sang Ayah angkat merasa sangat iba dan memarahi istrinya. Untuk menambah rasa bersalah dari Ibu Angkat nya dan menambah kebencian Ayah angkatnya kepada istrinya, Esther lalu menjepit lenganya hingga tulang lengannya patah. Ia lalu melapor pada Ayah angkatnya bahwa lengan nya patah karena ulah ibu angkatnya. Sang Ayah lalu menghubungi Psikiater untuk memeriksa kejiwaan istrinya, karena ia merasa istrinya masih terganggu dengan kematian anak ke tiga mereka. Sementara Sang Ibu di awasi oleh Psikiater, Esther kembali berulah dengan membakar rumah pohon pada saat Daniel sedang berada di rumah pohon tersebut. Daniel lalu melompat dari rumah pohon yang sudah habis terbakar, ia lalu pingsan. Esther yang melihat bahwa Daniel hanya pingsan lalu mengambil batu besar dan berniat melempar kan batu itu ke kepala Daniel. Tapi Max datang lalu mendorong tubuh Esther. Daniel pun segera di bawa ke Rmh Sakit. Di Rmh Sakit Esther kembali mencoba membunuh Daniel dengan membekap wajah nya dengan bantal. Syukurlah dokter masih bisa menolong nyawa Daniel. Sang Ibu Angkat yang mengetahui itu ulah Esther lalu menampar wajah Esther hingga ia terjatuh ke lantai. Sang Ayah angkat lalu memerintahkan perawat untuk menyuntikkan penenang di leher si Ibu Angkat.
Sang Istri yang merasa diperlakukan tidak adil oleh suaminya karena pendapat dan penjelasannya tidak diterima lalu berusaha menyelidiki latar belakang Esther. Hingga kemudian terungkap bahwa dulunya ia adalah Penghuni Rumah Sakit Jiwa di Rusia. Dia adalah penjahat kejam yang menderita kelainan jiwa dan penyakit langka yang pertumbuhan tubuhnya berhenti pada saat ia berusia 9 tahun. Padahal saat ini usianya sudah 33 tahun. Ia kabur dari rumah sakit jiwa setelah membunuh beberapa petugas rumah sakit jiwa lalu mendaftarkan diri di panti asuhan sebagai anak yatim piatu. Ia lalu di adobsi oleh beberapa keluarga yang kemudian berakhir dengan kematian seluruh anggota keluarga yang mengadopsinya apabila ia tidak berhasil merayu ayah angkatnya. 

Perjuangan Sang Ibu Angkat untuk menyelamatkan keluarganya dari kejahatan Esther menjadi scene yang paling menegangkan. Saya seperti merasa ikut lelah dan harus menahan nafas karena Esther sangat sulit untuk dikalahkan. Hingga akhirnya Esther mati tenggelam di dalam air salju setelah lehernya patah. 



0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung ^_^
Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan