Monday, June 1, 2015

Review buku Suami Sempurna Karya Nurul F. Huda



Judul              : Suami Sempurna
Penulis           : Nurul F. Huda
Penerbit         : PT Lingkar Pena Kreativa
Cetakan         : Pertama, Desember 2011

Buku ini merupakan karya terakhir Nurul F. Huda. Seorang perempuan penulis yang cukup produktif. Lebih dari 25 buku telah beliau terbitkan hingga kemudian ia sempat vakum dari dunia kepenulisan. Pada tahun 2010, setelah lepas dari vakum, Nurul kembali aktif menulis dan menerbitkan buku. Namun, pada 17 Mei 2011, Nurul F. Huda wafat dalam usia muda, 35 tahun. Semoga amal ibadah beliau di terima disisiNya, Amin.

Menurut Habiburrahman El Zhirazy, Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta yang juga menjabat sebagai Ketua Liga Sastrawan Muslim Dunia Wilayah Indonesia, “Nurul F. Huda adalah pribadi yang tawadhu dan memiliki semangat dakwah yang berkobar. Ia meninggalkan kenangan indah yang tak terlupakan”. Sedangkan Menurut Helvy Tiana Rosa, penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi, mengatakan bahwa “Tulisan-tulisan Nurul tak perlu bergenit kata, Simpel, to the point, tapi meninggalkan hikmah yang dalam” dan kalau menurut saya sendiri, apa yang dikatakan oleh dua penulis di atas memang benar. Tergambar nyata dari buku terakhirnya ini. Buku ini terdiri dari 14 kisah diantaranya:
  1. Aku adalah ayah
  2. Dua bunda
  3. Bukan Langit dan Bumi
  4. Suami Sempurna
  5. Ningsih
  6. Nada Pasir Kaliadem
  7. Terempas Asa
  8. Mutiara Lembah Hitam
  9. Kembang Desa Maja
  10. Gurat di kertas Putih
  11. Taksi Plat Hitam
  12. Merpati Kelabu
  13. Bunga Berkuah
  14. Bunga Karang


Sedangkan judul buku sendiri diambil dari kisah ke Empat berjudul “Suami Sempurna” bercerita tentang seorang wanita bernama Astri yang berperan sebagai Istri dan Ibu dari 2 orang anak. Suaminya bernama Ari, seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Hanya saja Sang Suami telah mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk kerja dan kegiatan sosial. Dan tak pernah berniat ataupun berpikir untuk sedikitpun membantu Pekerjaan Istri di rumah. Kisah dimulai dengan perdebatan Astri dan Ari, hanya karena Ari tidak ingin dititipi oleh Astri, anak mereka yang sedang tertidur. Padahal saat itu, Astri hanya ingin keluar sebentar untuk membeli kerupuk di rumah tetangga. Dan Ari bersikeras agar Astri juga membawa anak mereka yang tertidur ke warung sebelah rumah karena takut anaknya akan menangis dan menggangu aktivitas menontonnya.


Perdebatan-perdebatan seperti itu hampir terjadi setiap hari. Jangankan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, melakukan apa-apa yang menjadi keperluannya di rumah pun Ari enggan. Segala keperluan Ari sebelum berangkat ke kantor seperti Sepatu, Jam Tangan, Tas, Handphone haruslah Asti yang mengurus. Ditambah dengan dua anak mereka yang masih kecil-kecil dan kegiatan sosial di sekitar rumah yang juga harus diurus oleh Asti membuatnya semakin repot. Berbagai cara telah dilakukan Asty untuk menyadarkan suaminya, mulai dari memperlihatkan contoh Sosok Rasulullah Saw, sosok Aktivis dari majalah hingga rekan kuliah Ari yang selalu turun tangan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tetapi tetap saja Ari tidak sedikitpun sadar untuk sedikit bergerak membantu istrinya. Hingga kemudian Asty tersadar bahwa ternyata Ari mencontoh sosok ayahnya yang juga tak pernah sedikit pun turun tangan membantu ibunya mengurusi pekerjaan rumah tangga. Asty tak pernah berharap suaminya menjadi sosok yang sempurna, yang dia inginkan hanyalah sedikit bantuan dan kerjasama dari Sang Suami untuk membantu mengurus persoalan rumah tangga yang tidak mudah itu.

Huffttt... sepertinya kehidupan rumah tangga sulit ya...yeah..siapa juga yang bilang gampang.

0 comments:

Post a Comment