Saturday, June 13, 2015

#NulisRandom2015: Day 13 (CerBung: Lelaki Berbaju Koko Putih-Part 1)


Hari yang panas...ketika adzan berkumandang.  kulirik jam tua yang tergantung di tembok kamar. Pukul 12.20. Hah...pantas saja hari terasa sangat panas, di tambah lagi tubuh yang mulai lemas dan dahaga yang sepertinya mengigit tenggorokan. 6 jam lagi. Aku hanya perlu bertahan 6 jam lagi hingga waktu berbuka puasa tiba.

“Hoi...Hoi..bangun..bangun ayo shalat berjamaah di mesjid” kudengar suara pintu kamar digedor – gedor keras dari luar.

Suara berat nan tegas itu pasti milik KorDes alias ketua kelompok KKN kami di Posko 15, Ahmad. Ini sudah hari ke 2 kami berada di Posko ini. Belum banyak yang kami ketahui tentang kampung tempat kami mengabdi ini. Dan tentu aku juga belum tau tentang makhluk manis yang nanti nya akan selalu menjadi semangat ku untuk bergegas shalat berjamaah di Mesjid.

Hari itu aku ke Mesjid dengan perasaan setengah hati. Di terik panas matahari yang serasa membakar ubun-ubun ini aku berangkat seorang diri ke Mesjid, yang syukurlah jarak nya tidak terlalu jauh dari posko kami. Tetapi karena matahari sedang panas-panas nya, aku merasa sedang berjuang menyeberangi gurun sahara. Dan mungkin ini juga alasan teman-teman ku yang cewek beralasan sedang berhalangan untuk shalat. Pasti itu hanya akal-akalan mereka saja. Sedangkan teman-teman ku yang cowok sudah berangkat duluan. Seandainya saja setelah shalat berjamaah dhuhur nanti tidak ada pertemuan dengan pemuda karang taruna di desa ini. Aku juga lebih memilih untuk shalat dhuhur di posko saja. Hanya saja aku yang berperan sebagai sekertaris di kelompok KKN ini haruslah datang.

Setiba di mesjid ternyata shalat berjamaah sudah dimulai. Segera aku bergabung sebagai Masbuq. Kuambil shaf paling ujung. Hanya ada 6 jamaah wanita. Tetapi jamaah pria ada dua baris. Sekilas kulirik jamaah pria yang tepat berada di shaf depan ku. Pakaian nya sangat rapi. Baju koko putihnya bercahaya diterpa sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela dengan sarung garis-garisnya yang juga terpasang rapi. Aku segera menundukkan pandangan dan segera memusatkan pikiran dan hatiku berhadapan dengan Yang Maha Kuasa sambil tetap mengikuti gerakan Imam.
  
Seusai shalat berjamaah aku masih tinggal duduk di Mesjid sambil berbincang-bincang sejenak dengan ibu-ibu yang juga jamaah di Mesjid tersebut. Kemudian kulirik Ahmad menghampiri laki-laki pemilik baju koko putih tadi. Mereka kemudian bersalaman lalu berbincang sejenak. Aku masih memperhatikan mereka dari kejauhan.  Aku menjadi penasaran seperti apa wajah laki-laki berbaju koko putih itu. Hingga kemudian muka ku menjadi bersemu merah ketika tiba-tiba kordes menunjuk ke arahku diikuti oleh tatapan mata pria berbaju koko putih tadi. Wuah...rasanya jantung ku hampir copot, aku merasa seperti pencuri yang ketangkap basah. Aku akui memang aku curi-curi pandang dari tadi. Tetapi entah kenapa saat mata ku dan mata pria berbaju koko putih tadi bertemu. Aku merasa aku yang kecurian. Pria berbaju koko putih tadi hanya sesaat langsung mencuri hatiku. Huahh....Tatapan matanya yang teduh, senyum nya yang hangat, dan wajahnya yang kuakui memang diatas rata-rata. Kalau mau digambarkan dia mirip sama aktor tampan dari China, Jimmy Lin. Idolaku sejak aku masih kecil. Yah..dia mirip Jimmy Lin.

Huah...aku kembali bersorak dalam hati. Syukurlah teman-temanku yang cewek tadi tidak ikut shalat berjamaah. Sekarang aku jadi yang pertama melihat makhluk Indah Ciptaan Tuhan itu. Beberapa menit kemudian kami sudah duduk melingkar. Rapat kali ini bukan acara penting, hanya sebatas perkenalan saja dengan pemuda karang taruna kampung tersebut dan para remaja Mesjidnya. Aku merasa suasana hatiku tidak karuan. Jantung ku berdegup kencang, betapa tidak, pria berbaju koko putih tadi duduk pas di depanku.  Hanya berjarak satu setengah meter saja. Semoga dia tidak mendengar detak jantungku yang rasanya berbunyi seperti genderang perang. Kulirik Ahmad selaku Kordinator Kelompok kami membuka rapat sekaligus memperkenalkan diri secara resmi. Ia berbicara panjang lebar tentang visi dan misi KKN kali ini dan apa yang ingin dia tawarkan untuk menjadi program kerja kami selama 2 bulan berada di kampung Maja ini.

“Terima Kasih buat rekan-rekan karang taruna dan teman-teman remaja mesjid yang sudah menyempatkan waktunya untuk bertemu dan berkenalan dengan kami..bla...bla..was..wes”

Aku sudah tak lagi memperhatikan apa yang Ahmad katakan. Seperti biasa kalau dia diberi kesempatan berbicara dia pasti lupa waktu. Aku hanya sibuk mencoret-coret kertas di depan ku. Berpura-pura sibuk. Padahal aku hanya sibuk menenangkan hatiku yang tak karuan rasanya. Ingin sekali kuangkat kepalaku menatap langsung wajah manis itu. Tetapi aku tak sanggup. Aku takut ketika aku menatap wajahnya aku tak akan bisa berpaling. Hahaha, aku tertawa-tawa dalam hati. Sebelumnya ku pikir hari – hari ku selama dua bulan di kampung ini akan membosankan dan hampa. Tak kusangka baru dua hari berada disini aku sudah menemukan sesuatu yang menarik. Lamunan ku tiba-tiba buyar. Ketika kudengar Ahmad menyebut namaku.

“Dan ini Astrid Wirajaya, dia bertindak sebagai sekretaris kelompok kami”

Aku segera mengangkat wajah dan kulihat semua mata tertuju padaku tanpa terkecuali laki-laki berbaju koko putih itu. Aku kemudian refleks mengembangkan senyum lebar dan mengangguk. Semoga senyum kaku yang kulemparkan tidak menakutkan.

“Dan mungkin itu perkenalan dari kami. Semoga kehadiran kami benar-benar bisa memberikan arti buat desa ini. Dan kedepannya tentunya kami mengharapkan bantuan dari teman-teman karang taruna dan Remaja Mesjid Jauharatul Khadra ini. Selanjutnya saya serahkan pada Kak Irwan selaku ketua karang taruna” kata Ahmad sambil menoleh ke laki-laki Berbaju koko putih itu.

(Bersambung)




0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung ^_^
Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan