Thursday, June 18, 2015

#NulisRandom2015 : Day 16 (Cerbung: Lelaki Berbaju Koko Putih-Part 2)


Pria berbaju koko putih tadi mengambil alih pembicaraan. Beberapa cewek anggota remaja mesjid yang sedari tadi juga terlihat bosan kini menatap lurus ke depan dengan serius. Aku pun tak punya alasan lagi untuk menunduk terus, aku ingin melihat wajah nya langsung. Aku berani kan mengangkat kepala dan menatap wajahnya yang hanya berjarak satu setengah meter dariku.

“Dan untuk teman-teman KKN terima kasih karena telah hadir di desa kami. Untuk ke depannya insya Allah kami akan meluangkan banyak waktu kami untuk membantu program kerja dari teman-teman...”

Wah.. dilihat dari jarak dekat dia lebih ganteng. Pandangan matanya sangat teduh, lesup pipinya selalu terlihat saat ia mengucapkan sebait kata. Senyum manisnya tak pernah lepas. Serta Alis tebalnya yang  benar-benar memikat.

“Dia sempurna” kataku pada diri sendiri. Aku tak berkedip menatapnya. Hingga kemudian bola mata kami bertemu. Aku langsung menundukkan pandangan. Kuharap tatapan mataku tadi tak membuatnya merasa aneh.

Seusai shalat ashar berjamaah, aku kembali ke posko dengan langkah-langkah tertatih. Sepertinya aku tak punya tenaga lagi untuk berjalan. Matahari masih bersinar sangat terik walaupun jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Kupandangi anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan. Aku menghampiri dan menyapa mereka, memperkenalkan diri dan bergabung bermain bersama mereka sejenak. Aku selalu suka dengan anak-anak. Tawa mereka selalu membuatku merasa bahagia. Dan beberapa menit perkenalan ku dengan mereka. Mereka telah tertawa riang melihat ku bermain asal-asalan. Tanpa kusadari ada satu pasang mata yang memperhatikan ku dari kejauhan.

Pukul 18.05 beduk adzan maghrib ditabuh, adzan berkumandang memenuhi langit jingga desa ini. Aku dan beberapa teman sudah duduk manis menatap hidangan buka puasa yang dipersiapkan Ibu Kepala Desa sejak siang tadi. Ada Es buah, ada dadar gulung, ada jalangkote, ada kue lapis, Es Sirup Leci dan buah pisang. Aku dan teman-teman yang lain menatap takjub takjil buka puasa di atas meja, lalu tiba-tiba ibu Kepala Desa menghampiri kami sambil membawa tambahan gelas untuk kami.

“Maaf ya Nak, cuma bisa menyiapkan buka puasa seadanya. Kalian sabar ya selama berada disini, nanti kalau kalian sudah kembali ke rumah masing-masing baru bisa makan enak lagi” kata ibu setengah baya tersebut.

“Wah Bu, ini takjil buka puasanya sudah lebih dari cukup bu. Kami malah bingung mau makan yang mana dulu, karena pilihan nya terlalu banyak” kata Ahmad berbasa basi, padahal dia sudah menghabiskan segelas es buah dan tiga potong dadar padahal baru sepuluh menit yang lalu waktu berbuka.

“Iya Bu. Kita sangat berterima kasih karena sudah disiapkan menu buka puasa sebanyak ini. Es buah nya sangat nikmat bu” Kata Rafi, wakil ketua yang sangat santun itu.

“Syukurlah kalau begitu. Kalian habiskan ya makanan nya. Kalo ndak habis nanti jadi mubazzir loh” kata bu Desa sambil beranjak menuju dapur.

“Siap bu, laksanakan” kata Radit, teman satu fakultasku yang bertindak sebagai Ketua Bidang Perlengkapan. Badannya kurus kerempeng tetapi nafsu makannya jauh lebih besar dibandingkan Ahmad yang bertubuh gemuk.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang seperti kesetanan menikmati sajian buka puasa itu. Tiba-tiba Rara, gadis bertubuh mungil yang kukenal sejak OSPEK, namun berbeda Fakultas dengan ku menghampiriku setelah membantu Ibu Desa di dapur.

“Astrid, tadi siang kamu ikut rapat sama anak-anak Karang Taruna dan Remaja Mesjid sini kan?” tanya Rara setengah berbisik padaku.

“Iya, aku ikut. Emang kenapa?”

“Tadi Radit cerita, katanya Ketua Karang Taruna merangkap Ketua Remaja Mesjid sini ganteng banget ya?” tanya nya antusias.

“Hum... gak ganteng-ganteng amat seh. Tetapi lumayanlah” kataku sambil terus mengunyah lapis legit kuning yang sisa beberapa potong di atas meja.

“Gak ganteng-ganteng amat ya? Tetapi kok kata Radit, waktu kamu liat dia katanya mata kamu membelalak dan tak berkedip sama sekali?” katanya lagi setengah mengejek.

“What?” aku hampir tersedak mendengar kata-kata Rara barusan. Aku langsung menoleh ke Radit yang tengah khusyuk menghabiskan Es Buah nya setelah tiga kali tambah. Radit yang dari tadi sibuk menatap mangkuknya lalu mengangkat kepala dan menoleh padaku. Ia lalu tersenyum manis menampakkan wajah innocentnya lalu segera kabur ke dapur.

“Radith, awas ya kamu” kataku dalam hati.

Aku kemudian tersenyum manis ke arah Rara yang terkekeh melihat Radit yang kabur sambil membawa kabur sesisir pisang dari atas meja.

“Hum, Entahlah. Persepsi orang tentang sosok ganteng itu kan beda-beda. Kalau kamu, udah selesai masa datang bulannya. Kamu bisa shalat berjamaah di Mesjid lagi dan melihat langsung yang namanya Mas Irwan itu” kataku sambil melanjutkan makan kue lapis legit terakhir yang ada di piring.

“Oh..namanya Irwan toh. Wah nggak sabar neh, mau lihat langsung orangnya kayak gimana?” kata Rara sambil tersenyum genit lalu berlalu ke dalam kamar.

Huftt.. aku menghela nafas panjang. Sialan, ternyata waktu di Mesjid tadi, Radit memperhatikan aku. Ya ampun aku jadi merasa malu sekali.

Bersambung...



0 comments:

Post a Comment